Dunia IslamNasihat

Adab Mengutip Hadis Nabi SAW

3 Mins read
Adab Mengutip Hadis Nabi SAW ms

Di tengah majunya teknologi informasi, hadis-hadis yang berasal dari Nabi Muhammad SAW kerap kali dikutip dan disebarkan melalui media sosial. Sayangnya, pengutipan hadis ini kerap kali dibarengi dengan pengabaian adab atau etika. Bahkan, sampai detik ini masih ada beberapa kalangan yang melanggengkan praktik politisasi hadis demi keuntungan dirinya dan kelompoknya. Pengutipan hadis tanpa adab tidak hanya berpengaruh buruk terhadap cara berpikir publik. Melainkan juga menyulut pemahaman menyimpang di kalangan masyarakat terkait ajaran Islam. Karenanya, adab dalam mengutip hadis Nabi perlu diperhatian agar kita selamat dari kemudharatan.

Pertama, verifikasi atau tabayyun. Memastikan apakah betul hadis yang kita dapatkan itu berasal dari Nabi SAW atau bukan, sebelum mengunggah atau membagikannya. Kita dapat mengecek hadis-hadis yang berkualitas shahih atau hasan dalam buku-buku induk hadis. Baik dalam kutub sittah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan al-Turmudzi, Sunan al-Nasai, dan Sunan Ibn Majah), maupun dalam kutub tis’ah (kutub sittah, Muwattha Imam Malik, Musnad Ahmad, dan Musnad al-Darimi) yang disepakati oleh jumhur ulama hadis klasik sebagai kitab rujukan utama.

Meskipun kini beberapa laman atau aplikasi pencarian hadis memudahkan kita dalam melacak dan memastikan keotentikan suatu hadis. Namun, membuka dan merujuk langsung kepada buku atau kitab induk merupakan kewajiban, khususnya bagi kalangan akademisi. Sebab jika apa yang ditulisnya itu bukan sebuah hadis, melainkan perkataan ulama dan ia mengklaimnya sebagai sabda Nabi SAW, maka kekeliruan itu dapat berakibat fatal.

Dari Abdullah ibn Zubair berkata, dari ayahnya al-Zubair berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah ia menempati kedudukannya di neraka [HR Bukhari]. Hadis ini membuktikan, betapa tegasnya Nabi SAW dalam memperingati umat Islam agar tidak menyematkan nama beliau terhadap narasi yang sejatinya tidak pernah disampaikannya. Sebab mengatasnamakan Nabi SAW terhadap sesuatu yang tidak pernah dilakukan, dikatakan, dan disifatinya adalah upaya pemalsuan hadis.

Oleh karena itu, sebelum menyebarluaskan hadis, kita perlu mengecek kembali validitas dan keasliannya. Dengan begitu, kita akan terjaga dari upaya pemalsuan hadis. Jangan sampai, maraknya pemalsuan hadis yang telah terjadi sejak puluhan abad yang lalu, khususnya sebelum hadis-hadis Nabi SAW dikodifikasi, kembali terulang di masa sekarang.

Hadis-hadis palsu seputar bulan-bulan Islam, seperti Rajab dan Ramadhan laris dikonsumsi masyarakat dengan semangat beragama tinggi. Meskipun telah ditakhrij, dibukukan, dan diluruskan pemahamannya oleh ulama hadis, tetapi upaya memahamkan publik terkait sumber hadis-hadis tersebut masih terus menjadi tugas kita bersama, khususnya bagi para akademisi.

Kalimat yang berbunyi, “sesungguhnya Rajab itu bulannya Allah dan Sya’ban itu bulanku. Dan Ramadhan itu bulan umatku”, kerap kali dianggap sebagai hadis yang berasal dari Nabi. Namun, hadis-hadis ini ternyata telah diverifikasi dan dinilai maudhu’ atau palsu oleh Ibnu al-Jawzi, Ibn Qayyim, Ibn Hajar, dan ulama hadis lainnya. Begitu pula hadis-hadis palsu seputar keutamaan puasa di bulan Rajab. Karenanya, etika pertama dalam memverifikasi dan memastikan kualitas hadis sebelum mengutipnya ini perlu untuk diperhatikan dan ditekankan.

Di samping mukharrij hadis, penomoran hadis juga kerap kali disalahartikan oleh sebagian kalangan pengutip hadis. Al-Turmudzi, salah satu penulis sekaligus mukharrij kutub sittah misalnya. Tidak hanya memiliki satu karya tentang hadis. Melainkan juga menulis buku al-Syamail al-Muhammadiyyah. Begitu pula Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, tidak hanya menulis hadis-hadis dalam shahihnya. Melainkan juga mengumpulkan hadis-hadis tentang adab dan akhlak seorang Muslim yang berjudul al-Adab al-Mufrad.

Oleh karena itu, hadis-hadis yang berasal dari kitab-kitab selain kutub sittah atau kutub tis’ah, meskipun ditulis oleh mukharrij kitab-kitab tersebut, masih harus diperhatikan kualitasnya. Begitu pula halnya penomoran hadis yang sejatinya tidak dapat dijadikan patokan. Sebab penomoran hadis berbeda-beda, bergantung pada lembaga yang menerbitkannya. Penomoran hadis dalam buku-buku hadis primer terbitan dar al-kutub Mesir berbeda dengan penomoran hadis dar al-hadis. Begitu seterusnya.

Kedua, memahami hadis tidak bisa hanya melihat teks, tanpa memahami konteksnya. Jika ingin membicarakan atau mengutip hadis tentang jihad, maka sepatutnya kita sudah memahami kondisi dan situasi sosial, budaya, serta politik pada saat itu, termasuk latar belakang munculnya hadis (asbab al-wurud), jika ada. Apakah kaum Muslim sedang dalam kondisi terancam keselamatannya atau tidak? Bagaimana budaya bangsa Arab dalam mengatasi konflik pada saat itu? Mengapa ada hadis yang menyebutkan jihad fi sabilillah adalah perang?

Tanpa memahami dengan baik setiap komponen itu, maka segala upaya yang dilakukan untuk mengorelasikan atau merefleksikan hadis di masa sekarang akan sia-sia. Atau bahkan keliru. Sebab tidak mengetahui dengan baik konteks hadis pada saat Rasulullah SAW menyampaikan.

Ketiga, mampu membedakan antara hadis yang umum dan khusus. Sebagaimana kita ketahui, fungsi hadis, di samping menafsirkan al-Quran (takhsis al-quran bi al-sunnah), ia juga menjadi penjelas bagi hadis Nabi SAW lainnya (takhsis al-sunnah bi al-sunnah). Secara sederhana, sebagian besar teks hadis, sebagaimana teks al-Quran, berkaitan satu sama lain. Sembarang mengutip tanpa bisa membedakannya, tak ayal akan menyesatkan orang lain.

Dengan demikian, memanfaatkan arus informasi yang begitu kuat dengan cara menyebarluaskan hadis-hadis Nabi SAW atau yang kerap dikenal dengan istilah digitalisasi dakwah itu baik. Namun, aksi tersebut menjadi tidak baik, jika orang yang mengutip dan menyampaikan hadis Nabi itu tidak memerhatikan adab atau etika-etikanya.[]

Related posts
Dunia Islam

Ramadhan Bulan Gotong-Royong

Selasa, (13/4/2021) kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan kedua di tengah pandemi. Pandemi Covid-19 yang bermula dari Wuhan satu tahun yang lalu telah…
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Dunia IslamKolomNasihat

Puasa Menumbuhkan Empati

Betapa luas dimensi yang dimiliki puasa, berbanding lurus dengan hikmah yang dikandungnya. Puasa Ramadhan yang merupakan mandat teologis, adalah juga momen untuk…