Nasihat

Apakah Potensi Kesalihan Perempuan Lebih Rendah dari Laki-laki?

2 Mins read
Apakah Potensi Kesalihan Perempuan Lebih Rendah dari Laki-laki? kesalehan sosial e1533982336776

Ada riwayat hadis yang sekilas menyatakan bahwa hanya sedikit perempuan yang mencapai ‘kesempurnaan’. Ada banyak pria yang mencapai kesempurnaan, dan tidak ada yang sempurna di antara wanita kecuali Asiyah, istri Firaun, dan Maryam, putri ‘Imran (HR. Bukhari, no. 3230). Pemahaman yang salah kaprah mengklaim bahwa, menurut Islam kemampuan ‘agama’ wanita lebih rendah daripada pria. Sebab, hanya ada empat dari sekian banyak wanita yang mencapai status moral sempurna. Hal demikian merupakan kesalahpahaman yang tragis, sekaligus penyalahgunaan perkataan Nabi SAW.

Padahal, pemahaman yang tepat menunjukkan jika hadis tersebut sama sekali bukan soal indikasi inferioritas keshalihan perempuan. Berdasarkan teks otentik lainnya serta realitas kita sepanjang sejarah, banyak wanita yang melampaui pria dalam kebajikan religius. Banyak contoh wanita shalih luar biasa dalam al-Quran, sunnah, dan sejarah peradaban kita. Sehingga, menganggap potensi kesalihan laki-laki lebih sempurna dan unggul dari perempuan berdasarkan hadis tersebut sangat bertentangan dengan kenyataan.

Berbeda dari pemahaman keliru yang demikian berkembang, nyatanya para ulama telah menyajikan penafsiran yang sangat logis dan terang, bahkan sejak periode pensyarahan hadis era klasik. Dalam banyak komentar para ulama, kata ‘kesempurnaan’ dalam hadis itu diartikan sebagai kenabian. Memang sebagian besar nabi adalah laki-laki, karena jabatan kenabian sering kali melibatkan tugas yang sesuai dengan laki-laki, seperti mempersiapkan pertahanan militer. Namun, ada juga beberapa nabi perempuan yang sederajat dengan nabi laki-laki, seperti Maryam dan Asiyah yang disebut dalam hadis tadi. Bahkan al-Bukhari pun sepertinya berpendapat demikian, karena ia meriwayatkan hadis tersebut dalam bab ‘hadis para nabi‘.

Manusia yang paling sempurna adalah nabi, kemudian orang-orang kudus, orang jujur, dan para syuhada. Asiyah dan Maryam adalah nabi, yang memiliki ciri-ciri kesucian, kebenaran, dan kesyahidan. Ibnu Hajar, ketika mensyarah hadis ini menyampaikan argumentasi yang cukup menarik. Ia menulis, ciri-ciri kenabian banyak ditemukan di antara mereka, sehingga seolah-olah Nabi bersabda bahwa tidak ada di antara perempuan yang mencapai kenabian kecuali kedua wanita tersebut.

Sedangkan, jika yang dimaksud dengan ‘kesempurnaan’ adalah keshalihan berupa kejujuran, kesucian, kecerdasan, dan kesyahidan saja, maka itu tidak tepat. Sebab, karakter tersebut banyak ditemukan pada orang lain selain Asiyah dan Maryam, meskipun bukan nabi sekalipun seperti Khadijah dan Fatimah. Jadi, sangat tepat apabila ‘pria yang mencapai kesempurnaan’ dalam hadis tersebut dipahami sebagai ‘para nabi’.

Lalu, kita mungkin bertanya-tanya, mengapa hanya Asiyah dan Maryam? batasan pada Asiyah dan Maryam, menurut Ibnu Katsir dalam Bidayah wan-Nihayah, ada pada kurun waktunya. Keduanya bertanggung jawab atas masa kecil seorang nabi. Asiyah mengasuh Musa AS. Mariam mengasuh putranya, Isa AS. Maka dari itu, perlu dipahami bahwa Asiyah dan Mariaym, mencapai ‘kesempurnaan’ di zamannya sendiri, bukan di antara perempuan secara keseluruhan. Dengan demikian tidak mengesampingkan kesempurnaan orang lain selain mereka yang muncul kemudian di zaman Nabi SAW, seperti Khadijah dan Fatimah.

Oleh karena itu, riwayat ini tidak berarti bahwa wanita secara umum memiliki potensi kesalihan yang lebih rendah dari pada pria, hanya saja lebih sedikit wanita yang menerima wahyu ketuhanan langsung sebagai nabi. Berdarkan teologi mazhab Asy-ariyah misalnya, kita meyakini bahwa nabi perempuan ada enam, yaitu Hawa’, Siti Sarah, ibu nabi Musa, Siti Hajar, Asiyah, dan Mariam. Kriteria kenabian menurut Imam al-Asy’ari adalah didatangi malaikat yang membawa pesan dari Allah, yang berkaitan dengan suatu perintah, larangan, atau tanda apa yang akan datang, maka mereka dianggap sebagai nabi.

Jadi kesimpulannya, riwayat hadis tersebut sama sekali tidak menyiratkan inferioritas kesalihan perempuan. Sebaliknya, hadis itu justru menekan dominasi laki-laki dalam otoritas intelektual dan spiritual, dengan menginformasikan sederet nama-nama wanita yang hebat yang sebanding dengan para Nabi. Pesan intinya yaitu, potensi kesalihan perempuan dan laki-laki itu sama, sebagaimana tercatat dalam QS. An-Nahl ayat 97, dan beberapa ayat dan hadis lainnya. Anggapan bahwa laki-laki lebih unggul moral agamanya hanya berdasarkan jenis kelamin, tidak lain merupakan kesombongan tragis yang menyamar sebagai teologi. 

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Dunia IslamKolomNasihat

Puasa Menumbuhkan Empati

Betapa luas dimensi yang dimiliki puasa, berbanding lurus dengan hikmah yang dikandungnya. Puasa Ramadhan yang merupakan mandat teologis, adalah juga momen untuk…
Dunia IslamNasihat

Puasa, Momentum Penyucian Hati

Sudah datang lagi bulan Ramadhan, bulan mulia karena rahmat Allah dilipatgandakan. Ramadhan suci karena turunnya al-Quran pada suatu malam. Umat Islam diperintahkan…