Dunia IslamKolomNasihat

Tafsir Akomodatif, Innaddina ‘Indallah al-Islam

4 Mins read
Tafsir Akomodatif, Innaddina ‘Indallah al-Islam sesungguhnya islam yang akan datang adalah islam sunni

Bagi seorang Muslim, surat Ali Imran [3] ayat 19 yang menyatakan bahwa Agama yang diridhai Allah SWT adalah Islam, menjadi sebuah penenang batin sekaligus kebahagiaan tersendiri. Pernyataan resmi dari Tuhan ini dimaknai sebagai jaminan keselamatan bagi umat Nabi Muhammad. Dan di saat yang sama terlihat tak ada pintu kebenaran lain yang mengantarkan pada perkenan Tuhan, dalam asumsi sebagian masyarakat Islam.

Implikasinya adalah ide, jika ingin kelak selamat maka tak ada pilihan selain masuk Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW sebagai organized religion (agama formal). Pikiran demikian adalah sebentuk kewajaran yang merupakan hasil dari pembacaan apa adanya teks, dan ini mengandung potensi yang bisa memicu konflik antaragama. Kenapa penafsiran akomodatif atas Ali Imran [3]: 19 menjadi perlu? Karena kenyataannya umat manusia sering mengakuisisi kebenaran agama, melakukan kekerasan wacana dengan menyebut umat agama lain kafir, dan bahkan melukai fisik penganut agama lain hingga menyebabkan ledakan ketegangan yang tak kunjung usai. Mendeteksi benang merah agama-agama, agama samawi khususnya, menjadi penting agar program perdamaian manusia dapat terlaksana.

Saya sejak lama banyak menemui konstruk berpikir yang bernada superior terhadap agama selain Islam. Misalkan, sangkaan bahwa sesaleh apapun amal perilaku seseorang, jika tidak beragama Islam dianggap sia-sia dan masuk neraka. Saya pribadi pernah bergumam, merasa iba dan menyayangkan ketika melihat seseorang yang berbudi luhur, giat beramal saleh, dan religius tetapi bukan pemeluk Islam. Lalu dengan penuh harap dan pengandaian semoga dia menjadi bagian dari agama Rasulullah SAW.

Namun demikian, ada yang mengganjal dari postulat-postulat ini. Seakan-akan sifat Mahakasih Tuhan dan komando-Nya supaya manusia giat beramal saleh dipertentangkan dengan jerih payah baik manusia yang dianggap sia-sia tadi. Singkat kata, benarkah kebaikan amal manusia terbuang begitu saja jika ia tak beragama Islam yang formal, padahal Tuhan adalah Dzat Mahapengasih? Ternyata dalam banyak tempat, Allah SWT tetap menghargai pelaku kebaikan yang beriman dari selain penganut Islam, yakni Yahudi, Nasrani, dan Shabiin, seperti tertera pada al-Baqarah [2]: 62.

Gagasan tafsir akomodatif ini berangkat dari padangan pluralis terhadap esensi Islam sekaligus berupaya memahami kembali barisan monoteisme Ibrahim yang saling berkait kelindan satu sama lain. Abrahamic religion terdiri dari tiga agama langit, yakni Yahudi, Nasrani, dan Islam yang turun secara periodik. Kesamaan leluhur ini menjadi argumen dasar bahwa tiga agama tadi memiliki relasi teologis serta historis yang kuat, sehingga jalan selamat menuju Tuhan pun sangat mungkin dimiliki ketiganya. Dan secara sosiologis sudah semestinya mereka berkawan penuh sinergi, bukan malah baku hantam serta saling curiga. Nabi Muhammad SAW pun tegas mengatakan bahwa semua nabi memiliki agama yang sama yakni Islam, hanya berlainan syariat saja.

Untuk itu, atas dasar keterhubungan historis-teologis di atas, maka makna kata Islam dalam surat Ali Imran [3]: 19 perlu dielaborasi, tidak terbatas pada ajaran yang diusung Nabi Muhammmad SAW saja. Status sebagai nabi penutup dan penyempurna ajaran-ajaran Nabi terdahulu, menyimpan makna bahwa kesempurnaan itu adalah hasil dari koalisi risalah kenabian dari awal hingga akhir. Semua turut serta dan tiap mereka berhak mendapat imbal hasil yang sama, yakni keselamatan ukhrawi dan surga Tuhan.

Menukil dari al-Mizan fi Tafsir al-Quran milik al-Thabathaba’i, bahwasanya Islam bermakna ketundukan pada kebenaran keyakinan dan kebenaran tindakan. Dalam ungkapan lain, Islam adalah sikap tunduk pada keterangan atau ajaran yang datang dari sisi Tuhan dalam beragam ketentuan hukum dan kearifan. Ajaran Tuhan ini, yang dibawa oleh para nabi dan rasul dalam kitabnya, sekalipun berbeda dari segi materil dan praktik, hakikat kesemuanya adalah sama dan tak ada pertentangan di antara mereka.

Al-Thabathaba’i menutup dengan kesimpulan, bahwa Islam adalah penyerahan diri dan ketaatan kepada Allah dalam apa yang Dia hendaki dari hamba-Nya melalui perkataan para rasul-Nya. Berserah (taslim) kepada Allah berarti kita meyakini dan memercayai-Nya. Dari keyakinan lahir pembenaran serta pengakuan yang bermuara pada beramal aktif menjalankan ajaran-Nya. Jadi, pasrah di sini bukan bermakna fatalisme. Definisi ini adalah gerbang untuk mengakomodir pemeluk dua agama samawi lain agar tergolong sebagai kalangan yang bisa selamat di sisi Tuhan.

Kerangka pemahaman ini tak lepas dari dukungan ayat-ayat Allah yang dinarasikan dalam kitab-Nya. Sekalipun al-Quran menampilkan sikap kritis terhadap dua agama Ahli Kitab itu, tetapi apresiasinya terhadap Yahudi dan Nasrani ditemukan dalam banyak tempat. Peluang selamat mereka setidaknya terlihat dalam surat al-Baqarah [2] ayat 62, Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiun, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta melakukan kebajikan (amal saleh), mereka mendapat pahala dari Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak perlu bersedih hati.

Ada tiga rukun asasi yang terbaca dari ayat tersebut yang menjadi syarat seseorang mendapat tiket keselamatan, di mana secara otomatis berarti ia Muslim. Ketiganya adalah mengimani dan mentauhidkan Allah, percaya pada hari akhir, serta beramal saleh. Hal ini dipertegas pula oleh al-Baqarah [2]: 112, an-Nisa [4]: 125, dan al-Anbiya’ [21]: 108. Keluasan jangkauan indikator Muslim ini sejalan dengan keberadaan para nabi dan rasul Allah yang diutus secara bergilir. Mereka semua Muslim, memenuhi ketiga kualifikasi tadi, tapi hadir dengan ragam syariat (al-Maidah [5]: 48).

Dari deskripsi di atas, terlihat jelas bahwa Islam itu tunggal universal. Lahir dari Yang Maha Esa dengan bermacam syariat sebagaimana dianut para nabi. Islam bukan hanya satu syariat tunggal yang dibawa Nabi Muhammad SAW saja. Ketiga agama samawi tersebut telah menjumpai kalimah sawa (titik sepakat) dan sama-sama berpotensi benar juga selamat. Jalaluddin Rahmat menegaskan, pasrah sepenuhnya kepada Allah adalah inti dari ajaran agama yang benar serta diridhai Allah. Karenanya, semua agama yang mengajarkan hal demikian sejatinya adalah Islam.

Penafsiran akomodatif ini akan menjinakkan superioritas dan klaim eksklusif atas kebenaran jalan Tuhan. Diharapkan dapat menempa kesadaran umat beragama untuk lebih ramah perbedaan dalam aula peradaban manusia. Islam ialah agama universal, esensinya mengisi agama-agama samawi. Yahudi, Nasrani, dan Islam menganut keyakinan tunggal yaitu Islam, hanya berlainan syariat.

Aksin Wijaya dalam Kontestasi Merebut Kebenaran Islam di Indonesia (2019) mengajukan tawaran terbuka dengan menaruh label Islam pada semua agama samawi. Apabila nabinya adalah Musa dan kitab sucinya Taurat, bisa dinamakan Islam Yahudi. Kemudian jika nabinya Isa dengan kitab suci Injil, maka bisa disebut Islam Nasrani. Dan jika nabinya adalah Muhammad beserta kitab sucinya al-Quran, bisa disebut sebagai Islam imani.

Dengan sikap al-Quran yang di saat bersamaan mengajukan kritik serta apresiasi terhadap Yahudi dan Nasrani, apa yang bisa kita lakukan adalah bersuara serta mengajak serta untuk sama-sama meneguhi kalimatun sawa yang dipunyai agama samawi. Ajaran inti yang menjadi poin kesamaan itu adalah Islam dalam arti kepasrahan dan kepatuhan total kepada Allah, Tuhan semua makhluk, yang mengacu pada Islam Nabi Ibrahim.

Kita bisa meminjam istilah dalam kajian Arkoun yang disebut thinkable dan unthinkable, untuk menumbuhkan sikap akomodatif dan toleran dalam beragama. Sederhananya, teori ini menggambarkan bahwa suatu kebenaran itu memiliki banyak sisi. Mari analogikan pada kubus yang memiliki enam wajah. Apa yang bisa dilihat oleh seseorang itulah thinkable. Sedang sisi lain yang tak dapat dilihat adalah unthinkable. Masing-masing orang menemukan kebenaran partikular dari kubus itu. Saat bergeser/bersikap terbuka, kita baru akan mendapati kebenaran partikular lainnya.

Manusia tidak akan pernah sanggup mencapai kebenaran mutlak, sebab itu wilayah Tuhan.Karena hanya sanggup mencapai kebenaran partikular, maka masing-masing orang boleh mengklaim benar keyakinannya, tetapi tak diperkenankan menyalahkan pandangan pihak lain yang berbeda dalam hal hakikat kubus tadi. Dengan demikian, sindrom monopoli kebenaran dan keselamatan di sisi Tuhan bisa teratasi serta urusan sosiologis konflik antarumat beragama juga bisa diredam. Jika ada jalan untuk menjemput ridha Allah secara bersama, mengapa tidak? Wallahu a’lam. []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…