Kolom

Mengenang Teologi Inklusif Cak Nur

3 Mins read
Mengenang Teologi Inklusif Cak Nur cak nur

“Jika ingin mengantisipasi perkembangan masyarakat masa depan, sebaiknya berpaling kepada intelektual yang menyimpang dari arus utama” Demikian menurut Ali Syariati, seorang intelektual revolusioner Iran. Pernyataan tersebut layak disematkan pada Prof. Dr. Nurcholis Madjid, atau Arab disapa Cak Nur, seorang pemikir kontemporer, pembaharu pemikirian Islam Tanah Air dengan gagasannya tentang skulerisme dan pluralisme.

Kini, sang cendekiawan itu telah berpulang keharibaan Tuhan. Meski telah berpulang, karya dan gagasannya abadi. 16 tahun yang lalu, Indonesia telah kehilangan salah satu cendekiawan terbaiknya, yakni Nurcholis Madjid. Selain terkenal dengan jargonnya “Islam Yes, Partai Islam No”, Cak Nur juga mewariskan pesan yang amat penting disaat wacana keagamaan di negeri ini dihadapkan pada kondisi yang membingungkan, karena adanya keberagaman. Cak Nur memformulasikan sebuah konsep teologi yang bertujuan untuk membuka kepada arah persatuan dan perdamaian antar agama.

Dalam rangka mengenang teologi inklusif Cak Nur, penting bagi kita untuk mengkaji ulang pemikiran Cak Nur ini. Mengingat semakin modern era ini, semakin sulit menemukan kebenaran pada sesama. Reratanya, orang saling mengklaim dirinya lah yang paling benar, yang paling dekat dengan Tuhan, dan paling berhak mendapat ganjaran Tuhan, yaitu pahala dan Syurga. Dan mirisnya, klaim tersebut dibarengi dengan olok-olok pada manusia lainnya. Tidak hanya kepada yang berbeda keyakinan, bahkan sesama penganut keyakinan, memiliki kesamaan Tuhan, mereka saling menyerang.

Belum lagi munculnya gerakan-gerakan sosial seperti radikalisme, intoleran, dan tindak kekerasan atas nama agama. Hal itu merupakan satu dampak sikap eksklusif dalam beragama. Namun demikian, oleh Cak Nur persoalan tersebut dapat disikapi dengan bijak dan toleransi dengan membentuk paradigma berfikir yang tepat dengan kondisi bangsa Indonesia yang plural, yakni dengan membentuk frame berfikir inklusif. Ide gagasan Cak Nur yang cemerlang mampu memberikan penyegaran baru atas kondisi ini. Di tengah benturan kemoderenan, Cak Nur dengan semangat pembaharuan pemikiran Islam, telah benyak memberi kita pilihan terbaiknya dalam beragama dan bernegara.

Pemikiran-pemikiran Cak Nur, meski acap kali dianggap nyleneh, nyatanya masih sangat relevan hingga saat ini. Amat disayangkan ketika banyak kalangan gagal paham dengan upaya Cak Nur mengaitkan semangat kemoderenan dengan Islam. Atas itu, lantas Cak Nur menerangkan, “Modernisasi ialah rasionalisai, bukan westernisasi. Modern bukan westernisasi, rasionalisai bukan rasionalisme, sekularisasi bukan sekularisme, dan liberalisasi bukan liberalisme.

Atinya,Islam tidak hanya kompatibel bagi semangat keindonesiaan yang multikultural belaka, tetapi juga mendukung keberadaanya. Islam yang secara harfiah bermakna kepatuhan atau ketaatan, diimplementasikan dengan kepasrahan kepada Tuhan. Dengan demikian, sejatinya arti Islam adalah pasrah pada Tuhan. Nilai-nilai universal inilah yang menurut Cak Nur mesti dikohesikan dengan ruang dan waktu, agar menjadi kekuatan yang efektif dalam masyarakat, sebagai etika sosial.

Upaya kontekstualisasi Islam dengan semangat kendonesiaan, selain berakar dari pemaknaan Islam sendiri, juga tak lepas dari pemaknaan kalimat tauhid, yaitu Laa illaha illallah, yang artinya tidak ada Tuhan selain Tuhan. Bagi kelompok Islam konservatif, pengartian ini sangat mungkin dipermasalahkan, karena dalam nalar mereka pengertian ini menimbulkan ambiguitas dan telah melenceng dari lazimnya orang mendefinisikan kalimat tauhid.

Namun menurut Cak Nur, mengganti kata “Allah” dengan kata “Tuhan”, adalah sesewatu yang absah, karena hanya masalah bahasa yang subtansinya sama. Dari sinilah saya mendapati, betapa kuatnya semangat inklusifitas keagamaan Cak Nur. Bagaimana membangun kebersamaan yang tidak semata dilandasi kepentingan pragmatis untuk sekedar mentoleransi pemeluk agama lain, lebih dari itu, secara teologis hakekat agama-agama memiliki doktrin yang serupa.

Cak Nur menekankan pentingnya memahami pesan Tuhan dalam semua kitab suci. Baik itu Injil, Taurat, Zabur, dan al-Quran. Dr. Sukidi, penulis buku Teologi Inklusif Cak Nur, sekaligus murid Cak Nur, memaparkan pesan Tuhan yang dimaksudkan oleh Cak Nur. Pesan ini menurut Dr. Sukidi, bersifat universal dan merupakan kesatuan esensial semua agama Samawi, yang mewarisi Abraham Religiun, yakni Yahudi (Nabi Musa), Kristen (Nabi Isa as), dan Islam (Nabi Muhammad SAW). Lewat firman-Nya, Tuhan mengintervensi kita untuk berpegang teguh pada agama tersebut, karena hakekat dasar agama-agama adalah sebagai pesan Tuhan.

Tidak ada alasan bagi kita warga negara Indonesia untuk saling berselisih paham dan bercerai berai hanya karena berbeda agama. Sebab, semua agama-agama pada intinya memiliki landasan teologi yang serupa. Terdapat subtansi yang sama, meskipun terbungkus dalam wadah yang berbeda. Cak Nur mengibaratkan, seperti jeruji sepeda yang terpisah satu sama lain, tetapi bersumbu pada as yang sama. Terlebih saat ini bangsa kita tengah berjuang menghadapi pandemi Covid-19. Pandemi seharusnya mengajarkan pada kita, bahwa teologi inklusif ala Cak Nur memang dibutuhkan dalam bangsa yang majmuk ini.

Boleh jadi, konflik antar agama, atau bahkan sesama pemeluk agama yang sama yang kerap mengoyak kebersamaan kita, kekeluargaan kita, persatuan dan kesatuan kita, disebabkan oleh kepentingan politik subjektif dari para pelaku yang haus kekuasan, dahaga jabatan, lantas mengatasnamakan agama.

Oleh karenanya, dalam suasana mengenang teologi inklusif Cak Nur pada saat ini, yang terpenting adalah bagaimana menjaga pemahaman dan implementasi agama yang inklusif dari kelompok-kelompok yang ingin memenuhi ambisi pribadi dengan mempolitisasi agama. Yaitu dengan meningkatkan semangat kebhinekaan dan terus membumikan Pancasila, serta menekankan listersi-literasi digital yang sehat,  yang ramah, dan jauh dari provokasi, ujaran kebenciaan yang daapat memecah belah. Dengan demikian, teologi inlklusif Cak Nur tetap ada, menyala ke seluruh nusantara.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Puasa dan Spirit Toleransi

Menjelang bulan suci Ramadhan, seringkali teror dan bom bunuh diri terjadi. Terakhir, terjadi bom bunuh diri di Gereja Katedral, Kota Makassar dan…
KolomNasihat

Sunnah Sahur

Sahur merupakan elemen penting dari puasa. Sahur merupakan waktu yang tepat mempersiapkan asupan yang cukup agar dapat berpuasa sepanjang hari. Namun, tidak…
Kolom

Indahnya Puasa Sambil Bertoleransi

Dalam kehidupan, saling menghargai antar sesama manusia sangat diperlukan, apalagi di saat bulan puasa. Bulan Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk menebar virus toleransi antar manusia. Karena toleransi atau kerukunan antar umat beragama menjadi salah satu kunci penting dalam keberhasilan membangun perdamaian. Ketika berpuasa, kita diberi ujian untuk selalu bersabar dalam segala hal. Dengan adanya toleransi, kita dapat memperindah ibadah puasa yang akan kita jalani.