BeritaKolom

Mematahkan Ideologi Ekstremis Bom Bunuh Diri

3 Mins read
Mematahkan Ideologi Ekstremis Bom Bunuh Diri kk203618 clip10

Aksi Bom Bunuh Diri di depan Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/02/2021) menjadi fakta ideologi ekstremis masih berkeliaran di Indonesia. Itu sebabnya, ideologi ekstremis yang membahayakan ini harus segera dipatahkan mata rantainya. Demikian, pihak pemerintah masyarakat berperan penting untuk berkontribusi secara cermat dalam mewaspadai dari segala paham yang mudah menyalakan api peperangan.

Internalisasi pemahaman agama yang radikal menjadi bahan gorengan mapan penempa teroris. Mereka kerap menjadikan agama sebagai polesan akhir setelah keadaan psikologis seseorang diperburuk dengan berbagai ketakutan, kekecewaan, balas dendam, dan pesimisme lainnya yang tidak bisa memberi kepastian hidup. Ini persoalan yang tidak mudah untuk dipahami secara kasat mata, karena di permukaan luar mereka menunjukkan sikap normal tanpa ada masalah sebagaimana orang pada umumnya, tetapi di balik itu mereka menyembunyikan emosi yang tak terbendung dengan pelampiasan yang tidak wajar, yakni bom bunuh diri.

Itu sebabnya, penting dicatat bahwa dalam Islam tidak mengenal konsep bom bunuh diri, baik yang tujuannya untuk melukai diri sendiri, apalagi harus melibatkan orang lain yang tidak bersalah. Disebutkan dalam firman Allah SWT, Siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di bumi, seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi (QS. Al-Maidah: 32).

Sebagaimana ayat di atas secara jelas, Allah SWT telah mengharamkan pembunuhan terhadap seluruh manusia, tanpa pengecualian tertentu pada agama, suku, ras, dan bangsa, selain agar mereka memelihara kehidupan manusia lainnya. Sayangnya, para ekstremisme lebih condong pada golongan yang melampaui batas, yaitu mereka membuat kerusakan di bumi dengan menjadikan penghuni gereja sebagai simbolisasi dari enemy yang sedang dimusuhi. Padahal, kerusakan yang dimaksud bukan berangkat dari simbol tertentu, melainkan sikap yang mencerminkan pada intoleran atau diskriminasi yang kini menjadi wujud akar terorisme.

Di era modern, manusia sudah tidak lagi menjadikan peperangan fisik untuk saling menjatuhkan. Catatan sejarah yang kelam, menyadarkan manusia modern untuk  hidup berdampingan secara damai dan berkompetisi dengan tidak berekspansi. Pembunuhan itu sangat menyakitkan, alasan apalagi yang lebih berharga dari rasa kemanusiaan itu sendiri. Jika cara keberagamaan seseorang hanya melihat keegoan diri dan abai pada nasib orang lain, maka jelas ada kekeliruan nyata mereka dalam  memahami agama. Demikian jalan keberagamaan yang ditempuh para ekstremis tidak lebih mengartikan dunia sebatas kehidupan yang sia-sia karenanya ia lebih memilih bom bunuh diri.

Bagi para ekstremis, Tuhan tak lebih kecil dari keegoan atau hawa nafsunya. Mereka menggunakan kalam suci untuk membenarkan jalan kesesatan tanpa memikirkan konsekuensinya. Ketika hal buruk dibalas dengan keburukan, maka Indonesia akan di bumi hanguskan oleh bom bunuh diri para ekstremis, setiap harinya letusan bom mengerikan akan didengarkan di telinga kalau terorisme tidak segera diberantaskan. Mungkinkah ini kehidupan yang didambakan eksteremis, kembali pada masa peperangan dan hak hidup direnggut secara brutal.

Oleh karena itu, perlu menata kembali Islam sebagai rahmatan lil alamin merupakan prinsip yang dipegang teguh untuk mematahkan ideologi ekstremis bom bunuh diri. Segala yang menjadi perbedaan di dunia ini kita harus menghargai dengan sikap dewasa, senada dengan pernyataan Quraish Shihab, kita harus bisa bersikap toleransi tanpa harus mengorbankan akidah dan melaksanakan akidah tanpa harus mengorbankan toleransi.

Media sosial sebagai ajang penyebaran dan perekrutan ideologi ekstremis dihimbau agar jangan mudah terprovokasi pada konten kekerasan atau pembunuhan yang mengatasnamakan jihad Islam maupun imbalan lainnya. Masing-masing individu mesti mempunyai bekal kuat untuk bisa menepis ideologi ekstremis yang tidak melulu diserahkan pada pemerintah. Jika ada pertanyaan mendesak tentang keagamaan, maka tanyakan langsung pada pakar agama di lingkungan sekitar yang terbuka menerima penjelasan untuk dimintai pendapat. Jangan menanyakan kembali pada media sosial, karena bisa jadi interpretasi tidak sesuai dengan kondisi yang tengah dialami.

Ibarat penipuan yang umum terjadi di dunia maya yang mengajak bekerja sama dengan cara tertentu kemudian memberi imbalan hadiah bila bersedia, ideologi ekstremis pun demikian. Mulanya, ia mengajak untuk belajar mendalam tentang Islam lalu berfokus pada materi penyelewengan jihad dengan iming-iming imbalan surga setelah kematian. Mereka akan terus mengajak, sampai seseorang merasa sulit lepas dari golongan tersebut, yang pada akhirnya mendapat ancaman dari ekstremis jika identitas yang bersangkutan berhasil diketahui.

Minimnya literatur Islam ramah ilmiah yang dibaca umat Muslim Indonesia, memudahkan ideologi mereka diombang-ambing para ekstremis. Maka dari itu, ketika membaca sulit diterapkan, ruang terbuka untuk berdialog harus dilakukan. Menurut pakar teologi Islam yang pro Islam rahmatan lil ‘alamin (Misrawi: 2010) maksimalisasi penutupan ruang publik ini, baik fisik maupun ide, merupakan bagian dari bentuk deradikalisasi. Tanpa ruang terbuka, terorisme dan ekstremisme akan tersudut.

Demikian mematahkan ideologi ekstremis tidak lain dengan menambahkan wawasan keislaman yang ramah, jauh dari unsur kekerasan. Interpretasi ayat atau hadis mesti menyesuaikan konteks tidak terpaku hanya pada teks. Masyarakat yang sudah teredukasi dengan baik terkait bahaya ideologi ekstremis, akan memudahkan kinerja pemerintah dalam menanggulangi terorisme di Tanah Air.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…