BeritaKolom

Jangan Sinis Terhadap Isu Kontra-Terorisme

3 Mins read
Jangan Sinis Terhadap Isu Kontra-Terorisme Terorisme

Peristiwa ledakan bom di depan Gereja Katedral Makassar, pada Minggu (28/3/2021), membuat gempar masyarakat di Indonesia. Selain membuat gempar, isu bom bunuh diri menjadi trending di salah satu media sosial sehingga ramai-ramai mengutuk perilaku tersebut. Namun, tidak sedikit pula sinis terhadap penanganan terorisme di Indonesia, dengan mengatakan bahwa pemerintah tidak bekerja ataupun hanya pengalihan isu.

Isu terorisme memang menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat kita, tentunya sangat baik apabila mendapatkan perhatian tersebut. Dalam artian, bahwa masyarakat memiliki kesadaran terhadap kejadian aksi teror. Selain itu, masyarakat sadar bahwa Indonesia masih terlalu longgar bagi kelompok teroris, sehingga bisa bermetamorfosa dalam keramaian dan sangat mudah meregenerasi kelompok dengan merekrut individu yang memiliki pemikiran sempit serta tidak menerima kebenaran lain dari orang.

Tentunya, hal seperti ini akan mematahkan semangat para penggiat anti terorisme dan juga lembaga yang terkait dalam penanganan terorisme di Indonesia. Apalagi, jika diterpa isu miring dengan mengatakan bahwa pemerintah dan lembaga terkait tidak bekerja secara maksimal serta hanya sekedar pengalihan isu. Tidak sedikit ditemukan komentar mengatakan, bahwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar tersebut hanya mainan pemerintah agar orang-orang lupa akan kasus-kasus besar di Indonesia, terlebih ada yang mengaitkan dengan kasus pentolan Front Pembela Islam (FPI) yaitu Muhammad Rizieq Shihab.

Walaupun pemerintah melalui Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi telah mengeluarkan pernyataan resmi, terkait kejadian tersebut. Selain Presiden Jokowi, beberapa lembaga seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah secara serentak menyatakan bahwa kejadian ini merupakan tindakan kriminal dengan usaha-usaha tertentu.

Presiden Jokowi mengatakan bahwa: “Terkait dengan kejadian aksi terorisme di pintu masuk Gereja Katedral Makassar hari ini, saya mengutuk keras aksi terorisme tersebut dan saya sudah memerintahkan Kapolri untuk mengusut tuntas jaringan-jaringan pelaku dan membongkar jaringan itu sampai ke akar-akarnya,” kata Presiden Jokowi melalui video yang ditayangkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (28/3/2021).

Presiden Jokowi juga menegaskan bahwa “Seluruh aparat negara tak akan membiarkan tindakan terorisme semacam ini dan saya meminta masyarakat agar tetap tenang menjalankan ibadah karena negara menjamin keamanan umat beragama untuk beribadah tanpa rasa takut,” ujarnya. Selain itu, Presiden Jokowi memerintahkan kepada TNI-Polri bersiaga serta mengembalikan rasa aman secepat mungkin.

Upaya eksploitasi agama oleh kelompok teroris, merupakan salah satu hal yang lumrah dimana agama tidak lagi menjadi konsensus perdamaian. Kelompok ini, hanya menjadikan agama sebagai alat dengan mengedepankan agama sebagai tandem (pelindung) aksi teror mereka. Selain itu, upaya jual beli ayat suci terkait surga dan jihad, merupakan makanan sehari-hari saat doktrinisasi sehingga menganggap kelompok lain hanya merupakan kelompok kafir yang wajib dibunuh. Entah apa yang dipikirkan, namun secara garis besar kelompok ini menginginkan dan mendambakan sebuah negara berbasis keagaman bukan kesepakatan bersama.

Tentunya sangat miris, jika nada sinis terkait penanganan teroris dijadikan bahan olokan serta sebagai bahan baku untuk menyerang pemerintah. Apalagi menangani teroris merupakan pekerjaan rumah yang cukup lama, tidak penting siapa pemimpin ataupun rezim berkuasa saat ini.

Mengutip dari data Ayik Heriansyah dalam artikelnya, Bom Gereja di Makassar Pesan Teroris Untuk Densus, per Januari-Maret 2021, sebanyak 73 teroris telah berhasil Densus 88 ringkus. Mereka dari berbagai golongan: JAD yang afiliasi ISIS dan JI yang mengikuti trah NII terafiliasi dengan Al-Qaeda. Dari data tersebut, kita bisa melihat peta bahwa yang terjadi kemarin ada kaitannya dengan jaringan 20 teroris JAD Makassar yang terlibat pengiriman dana ke pelaku bunuh diri di Gereja Katedral Zolo, Philipina.

Salah satu upaya kelompok teroris adalah penyebaran ideologi serta sistem kekhilafahan. Namun, ideologi yang dibawakan akan sulit berkembang di bumi pertiwi, apalagi jika masih ada masyarakat Indonesia masih memiliki dan berjiwa nasionalis dan pancasilais. Selain itu, teror di Gereja Katedral Makassar merupakan pesan khusus bagi Kepolisian (Densus 88 Anti Teror) dan Pemerintah, bahwa kita masih dikelilingi oleh kelompok teroris, mereka tidak hanya ada Ketika kejadian melainkan sudah membaur dengan kelompok masyarakat biasa. Apalagi, masih terdapat tokoh-tokoh ataupun ormas yang menjadi supporting sistem, sehingga sangat sulit sekali menangani kasus tindak pidana terorisme di Indonesia.

Singkatnya, bernada sinis memang tidak dilarang namun sebaiknya digunakan pada tempatnya. Penanganan terorisme di setiap negara termasuk Indonesia, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan yang serba instan. Dibutuhkan kecakapan intelegensi, pasukan, data, dan undang-undang sebagai dasar penggerak bagi lembaga untuk menangani kelompok tersebut. 

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…