Kolom

Teologi Inklusif Vaksin Terorisme

3 Mins read
Teologi Inklusif Vaksin Terorisme 20d6374f f1b2 4b02 baee b1867fb252e3

Peristiwa bom bunuh diri yang melukai sejumlah korban dan menewaskan pelaku, pada Minggu (28/3/2021) di depan Katredal Makasar adalah bentuk penyimpangan agama. Meskipun dari sejumlah pihak, termasuk dari Presiden Jokowi dan Majlis Ulama Indonesia (MUI) menekankan untuk tidak mengaitkan dengan agama manapun. Namun fakta di lapangan menunjukkan, pelaku memiliki identitas agama tertentu. Jadi jelas, terorisme sangat lekat dengan aroma keagamaan. Hanya saja, kedangkalan pemahaman agama dan penyelewengan agama inilah yang kemudian berujung pada aksi terorisme. Oleh karenanya, teologi inklusif layak dibangun kembali, guna menjadi vaksin terorisme.

Aksi bom bunuh diri di Katredal Makasar menyadarkan kita, bahwa teorisme masih aktif di berbagai plosok negeri. Ia terus bergerak menyusun strategi, menunggu momen untuk berulah kembali. Mengutip dari berbagai sumber, aksi terorisme tersebut merupakan penyerangan yang kelima ditempat ibadah umat Kristiani, sejak 2011 hingga 2021. Sebelumnya, teror serupa pernah terjadi secara bersamaan di gereja Santa Ana Duren Sawit dan gereja Huria Kristen Batak Protestan Jatiwaringin pada 22 Juli 2011. Lalu teror bom di gereja Bethel , Semarang 2011, teror bom di gereja Oikumene di Kota Samarinda pada 2016, teror bom di tiga gereja di Surabaya pada 2018, yakni gereja Santa Maria, GKI Jalan Diponegoro, dan GPPS Jalan Aruna Surabaya.

Para pelaku teroris selalu berpandangan dengan teologis yang eksklusif, beranggapan bahwa kebenaran dan keselamatan, hanya terletak pada agamanya sendiri, tidak pada agama atau keyakinan lain. Adanya doktrin-doktrin pemahaman agama yang didukung ayat-ayat tertentu, semakin menutup pintu hati kelompok teroris untuk menerima kebenaran agama lain. Pandangan sempit inilah yang menimbulkan sikap beragama yang kurang toleran dan cendrung kaku terhadap realitas keragaman yang ada.

Tentu kita berharap, aksi teror di Katredal Makasar menjadi yang terakhir terjadi. Instansi pemerintah, TNI, Polri, dan segenap masyarakat harus saling bersinergi mencegah, memerangi, dan mencegah merebaknya kembali virus terorisme. Kerukunan dan kebersamaan antar agama mesti terus ditingkatkan. Selain pemahaman ajaran cinta sejati masing-masing agama. Konsep kebersamaan dan kerukunan antar agama-agama sangat penting demi terciptanya kebhinekaan yang terbebas dari aksi terorisme.

Sebagai bangsa yang besar dengan yang memiliki beragam etnis, budaya, dan agama, Indonesia memang harus menerima konskuensi dari munculnya pelbagai persoalan yang melatarbelakangi aspek keberagaman tersebut. Semua agama di negeri ini seperti Hindu, Budha, Kristen, Katholik, Islam, Konghucu, dan pelbagai kepercayaan lokal, sejatinya tidak pernah mengajarkan pada aksi-aksi teror yang merugikan orang lain. Semua agama membawa pesan Tuhan, mengajarkan cinta kasih pada sesama.

Meski memang, keberagaman selalu berpotensi memantik konflik sosial bernuansa etnis, ras, dan agama. Apabila satu kelompok dengan kelompok lainnya tidak terbangun kesadaran, sikap saling memahami dan menghormati adanya perbedaan, akan sulit terjadi harmonisasi dalam perbedaan.

Padaa titik inilah, perlu menemukan formula pengelolaan manajeman kehidupan antar agama yang sehat dalam situasi dan kompleksitas Indonesia kontemporer. Tak diragukan, Pancasila memang menjadi platform umum sekaligus kekuatan untuk merangkul keragaman yang ada. Namun pada kenyataanya, platform legal semacam Pancasila saja tak cukup. Perlu adanyaa upaya membangun relasi antar umat bergama secara harmonis penuh cinta kasih, yang bukan saja sekedar apresiasi dan simpatik. Lebih dari itu, sikap toleransi terhadap agama lain, dan meyakini bahwa setiap agama adalah pesan Tuhan, mengajarkan kedamaian, mengarakan cinta, dan memanusiakan manusia.

Penerapan teologi inklusif mesti bersumber pada dorongan tiap-tiap individu dalam menghayati dan memaknai agamanya sendiri. Selain itu, pentingnya mengadakan dialog antar agama, guna memudahkan terbangunnya kerjasama antar umat beragama dalam mengatasi problem-problem kemanusiaan, sehingga agama-agama menjadi kekuatan positif dalam kehidupan manusia. Lahirnya perpecahan antar umat beragama, saling mengkafirkan, bahkan melakukan aksi bom bunuh diri yang baru-baru ini terjadi di tempat ibadah, merupakan konskuensi logis dari teologi yang lebih menekankan perbedaan ketimbang persamaan.

Sejatinya, agama menjadi komponen penting dalam tatanan kehidupan sosial yang tak dapat dipisahkan, karena agama dalam definisinya sebuah perangkat yang mengatur hubungan atar manusia dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Agama semestinga menjadi kekuatan perekat hubungan antar sesama. Segala macam perbedaan yang ada, hendaknya tidak menjadi penghalang terciptanya rahmataan lil alamiin.

Saya tetap meyakini, bahwa aksi-aksi terorisme sangat erat sekali dengan isu keagamaan, terutama Islam. Akan tetapi pembelotan ajaran agama inilah yang kemudian berujung perilaku eksklusif. Perbedaan agama seharusnya tidak dijadikan pembatas intraksi antar manusia. Agama adalah sebuah candu, menurut Karl Marx. Oleh karenanya, harus ditempatkan secara proporsional. Nilai-nilai unversal agama seharusnya dijadikan sebagai perekat dan pengikat berbagai komunitas sosial antar bangsa, antar agama.

Dengan demikian, kiranya teologi inklusif menjadi amat penting sebagai vaksin terorisme. Sikap inklusifme yang merupakan sikap keterbukaan secara positif antar umat beragama akan menciptakan suatu kerukunan antar agama karena adanya toleransi yang tinggi. Tanpa adanya sikap inklusif, kerukunan antar umat beragama tidak mungkin terjadi. Maka dari itu, menjadikan teologi inklusif sebagai vaksin terorisme menjadi hal yang harus diterapkan.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Kolom

Milenial Bersatu Melawan Terorisme

Aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/03/2021) lalu menandakan paham ekstremisme masih hidup bebas di sekitar kita. Peristiwa kemarin, akan menambah sejarah kelam tragedi mengerikan terorisme di negeri ini. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa serupa, kaum milenial harus mengambil peran dalam melakukan hal-hal baik. Karena milenial adalah kekuatan negara yang nantinya memegang teguh tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa yang akan menuju ke peradaban lebih baik. Untuk itu, kaum milenial harus bersatu padu melawan terorisme agar ideologi tersebut tidak hidup bebas.
Kolom

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam. Pada waktu ini, Muslim yang mampu, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bulan suci umat Islam ini menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa bagi seluruh Muslim. Seseorang yang beribadah saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini tentunya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam.