Dunia IslamKolomNasihat

Terorisme Bukan Jalan al-Ghuroba’

3 Mins read
Terorisme Bukan Jalan al-Ghuroba’ ghuroba

Hadis Nabi yang membahas ihwal al-ghuroba’ telah diselewengkan oleh kelompok teror. Al-ghuroba’ yang berarti orang-orang terasing, merupakan satu dari sejumlah doktrin mereka. Melalui pemahaman ini, mereka mengimajinasikan diri sebagai golongan di luar mainstream. Keterasingan tersebut dibahasakan melalui aksi terorisme atas nama jihad, karena itu dianggapnya sebagai jalan keberuntungan. Kaum terasing yang beruntung dalam sabda Nabi tersebut, sejatinya adalah para pelaku kebaikan di tengah maraknya orang-orang berbuat kerusakan. Jalan al-ghuroba’ jelas bukan terorisme dan kekerasan yang justru menambah kerusakan.

Secara utuh narasi hadis terkait ini, bersumber dari Abu Hurairoh, tersebut bahwa Rasulullah SAW bersabda, Islam itu pada awalnya dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana semula, maka beruntunglah orang-orang yang asing (HR. Muslim). Riwayat hadis ini mengandung fakta sejarah atas situasi Islam di masa awal sekaligus prediksi Nabi akan keadaan Islam di masa mendatang, beserta golongan yang beruntung di masa-masa itu.

Kata al-ghuroba’ (orang-orang terasing) dalam hadis ini memang masih belum jelas dan multi-interpretasi. Kita bisa menemukan penjelasnya dalam riwayat lain. Misalnya dalam riwayat Imam Ahmad yang menerangkan, bahwa Nabi bersabda al-Ghuroba’ adalah mereka yang melakukan perbaikan tatkala manusia berada pada kerusakan. Dalam ungkapan lain, masih dalam riwayat Imam Ahmad, bahwa al-Ghuroba’ adalah orang-orang saleh yang berada di tengah kebanyakan manusia berbuat kerusakan.

Terjadi pembalikan habis-habisan terhadap maksud hadis Nabi tersebut oleh kelompok teror. Cara berpikir mereka sakit, yang kemudian menghasilkan perilaku kontraproduktif dan merusak. Konteks hadis ini menceritakan keadaan Islam yang menjadi suatu sistem keyakinan baru dan asing di tengah masyarakat jahiliah kala itu. Karenanya, dakwah Nabi pun adalah perjuangan yang tidak enteng dan penuh penolakan. Namun demikian, di tengah tekanan besar dan risiko yang membayangi, tetap ada sekelompok orang yang menyambut dan mau berjuang menyertai Nabi di tengah keterasingan masa itu.

Kemudian, hadis ini juga memuat prediksi Rasulullah SAW akan nasib Islam di zaman kemudian yang akan kembali terasing sebagaimana masa awal turunnya. Dari sinilah kaum teroris mulai membangun plot imajinasinya. Psikologi mereka selalu dipenuhi dengan kekakuan dan skeptisisme terhadap umat agama lain serta tatanan sosial dan kehidupan yang ada.

Kita ambil contoh dari surat wasiat yang ditinggalkan pelaku bom bunuh diri di Makassar dan Mabes Polri kemarin. Dari surat itu terlihat kebencian mereka pada pemerintah yang dianggapnya thaghut. Demokrasi, Pancasila, Pemilu, bahkan UUD pun disebutnya sebagai ajaran kafir. Mereka juga anti terhadap hal-hal yang berbau modernisme dan Barat, seperti penggunaan kartu kredit, bertransaksi di bank, dan yang semisalnya.

Muatan surat tersebut adalah miniatur sederhana akan kerusakan sistem hidup dan keterasingan Islam dalam perspektif mereka. Kelompok teror tersebut mengasumsikan umat Islam dan umat manusia pada umumnya telah berada pada titik kritis kemaksiatan yang luar biasa karena jauh dari ajaran agama. Maka dari itu, agar tak terjerumus dalam lumpur dosa yang mereka bayangkan, jatuhlah pilihan mereka untuk menjadi golongan terasing, menunaikan ‘jihad’ pengeboman yang tak dipilih oleh animo arus utama. Yang dengan itu, keberuntungan dan jalan keselamatan akan berpihak padanya. Dengan skenario demikian, mereka merasa kompatibel dengan hadis Nabi tadi.

Karena klaim sepihak atas kebenaran, maka segala hal di luar kelompok mereka dianggap salah. Oleh karena itu, tindakan buruk yang mereka lakukan dibayangkan sebagai amal saleh yang dilakukan oleh sekelompok umat terasing, di mana secara kuantitas tidak banyak. Tak ada lagi rasa malu ataupun takut. Mereka menamakan diri sebagai orang saleh di tengah jemaah manusia yang penuh dosa dan rusak.

Bahwa kejahatan dan kemaksiatan banyak dilakukan umat manusia, memang benar. Akan tetapi, respons yang kelompok teroris tunjukkan sangatlah tidak masuk akal dan tak bisa diterima oleh norma apapun. Mereka bernalar pendek dalam mendefinisikan kerusakan tatanan kehidupan hingga mengalami banyak miskonsepsi. Baik-buruk dalam dimensi mereka begitu dangkal. Implikasinya adalah kekeliruan dalam menyikapi kegelisahan yang bercokol dalam benak mereka.

Ada paradoks yang nyata antara konsep ghuroba’ kaum teror dengan maksud hadis Nabi Muhammad SAW. Kekerasan, bom bunuh diri, dan terorisme dianggapnya sebagai jalan orang-orang terasing yang bertuah. Padahal itu semua jauh dari spirit ajaran Rasulullah SAW. Khususnya bertolak belakang dengan hadis al-ghuroba’ terkait. Itu semua bukan definisi amal saleh. Kelompok teror ini terasing oleh karena pikiran dan ulah mereka sendiri. Mereka bukan orang-orang langka dengan kualitas unggul yang disabdakan Nabi.

Orang-orang terasing yang beruntung tadi adalah mereka yang konsisten melakukan kebaikan dalam situasi apapun. Tetap meneguhi nilai dan ajaran luhur Islam sekalipun hidup di tengah kerusakan umat manusia. Berkontribusi pada kelangsungan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika melihat kemungkaran, yang dilakukan adalah upaya produktif dan sesuai kapasitas untuk menanggulangi. Jangan karena kebencian pada maksiat, pelakunya pun dihabisi dan menyebabkan lahirnya kemungkaran baru.

Prediksi Nabi akan keterasingan Islam di zaman depan, harus kita sikapi dengan penuh kesadaran, nalar yang matang, serta pengetahuan yang luas. Narasi-narasi tentang keterasingan ataupun keterpurukan Islam jangan dibawa pada nuansa heroik dengan konsep pihak unggul menindas pihak yang lemah. Karena pembacaan demikian sangat rawan melahirkan psikologi ingin menginvasi dan menindas balik, sebagaimana emosi yang menjangkiti para kelompok teror.

Pemberitaan demikian dari Rasulullah SAW semestinya membuat kita lebih menyiapkan bekal, baik mental, spiritual, maupun intelektual. Menjadi komunitas limited edition yang dijanjikan keberuntungan oleh Nabi adalah tanggung jawab besar dan butuh mental yang tak kalah besar pula untuk berjuang dalam menyelesaikan ujian kehidupan. Demikianlah jalan yang ditempuh al-ghuroba’ hakiki. Bukan malah berputus asa dan mengambil pintasan untuk mengakhiri hidup dan memusnahkan yang dibenci.

Terorisme adalah kejahatan luar biasa yang menimbulkan kerusakan serta rasa tak aman. Tindakan ini bukan jalan golongan minor beruntung (al-ghuroba’) yang dijanjikan Nabi. Jangan terbuai dengan angin ilusi yang kaum teror hembuskan. Tawaran seindah apapun yang dikemas narasi agama, tetapi berseberangan dengan norma dan nilai luhur Islam serta kemanusiaan, itu semua palsu. Bukan anak tangga keselamatan. Bukan pula jalan keterasingan. Wallahu a’lam. []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…