Kolom

Duka NTT, Duka Kita Bersama

3 Mins read
Duka NTT, Duka Kita Bersama BANJIR NTT 20210405042903

Indonesia kembali berduka. Pasalnya, setelah rentetan bencana alam yang terjadi di awal tahun, kini banjir bandang dan tanah longsor tengah melanda sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa ini, tentu meninggalkan sederet dampak yang luar biasa. Yang mana, ini menjadi duka yang mendalam bagi saudara kita yang tengah berjuang menghadapinya. Oleh karena itu, perlu kita kobarkan kembali semangat gotong royong. Sebab, duka NTT, merupakan duka kita bersama.

Bencana jelas membawa kesusahan dan kesedihan. Bagaimana tidak, bencana telah memakan korban jiwa dan merusak rumah, sarana prasarana, serta pelbagai tempat lainnya. Sebagaimana data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mencatat sebanyak 128 orang meninggal dunia, 8.424 orang dari 2.019 keluarga mengungsi. Bukan hanya itu, kerugian materil pun tercatat ada 1.962 unit rumah terdampak, 119 unit rumah rusak berat (RB), 118 unit rumah rusak sedang (RS), dan 34 unit rumah rusak ringan (RR), sedangkan fasilitas umum, 14 unit RB, 1 RR, dan 84 unit lain terdampak.

Namun, terjadinya bencana seperti banjir dan tanah longsor pada dasarnya mengingatkan kita agar lebih peduli terhadap alam. Penebangan hutan secara liar, serta saluran air yang kurang memadai, di antaranya merupakan sebab-sebab terjadinya banjir sehingga akhirnya membawa bencana. Di samping menjadi momen evaluasi bersama agar lebih peduli terhadap keseimbangan alam, terjadinya bencana juga mengajak kita kembali memperkuat ikatan kesetiakawanan dan memperkokoh persaudaraan.

Kondisi ini menuntut pihak berwenang, serta masyarakat luas, untuk tanggap dan peduli dalam berpartisipasi mengupayakan secara cepat dan tepat penanggulangan terhadap korban. Maka dari itu, yang dibutuhkan adalah jiwa kamanusiaan dengan semangat persatuan dan kesatuan. Sebagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, yaitu nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Nilai-nilai ini lah yang perlu diimplementasikan, dengan satu cara, yaitu menggunakan budaya gotong royong.

Gotong royong merupakan sari pati dari nilai-nilai Pancasila. Seperti yang dikatakan Bung Karno, Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong royong”. Bung Karno juga menegaskan bahwa gotong royong merupakan suatu usaha bersama demi kepentingan bersama.

Gotong royong tentu bukan suatu hal baru bagi masyarakat kita. Bangsa ini telah mengenal istilah “gotong royong”, jauh sebelum negara ini merdeka, dan dengan semangat gotong royong atau semangat kebersamaan lah yang akhirnya mengantarkan bangsa ini ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Hal ini tentu merupakan warisan yang sangat baik, yang perlu kita lestarikan dan terus menjadi budaya agar tetap mengakar dalam masyarakat Indonesia.

Jika kita resapi perkataan Bung Karno, kita akan merasakan kuatnya nilai kegotongroyongan yang terus ditekankan agar menjadi jiwa bagi bangsa ini. nilai kegotongroyongan menjadi pengikat dan pemersatu kemajemukan yang ada di dalam tubuh bangsa Indonesia. jika kita memiliki semangat gotong royong, berarti kita selalu berpikir bagaimana menguatkan sikap untuk saling peduli, saling menghargai, dan saling membantu antar satu sama lain, antar kelompok satu dengan kelompok lain, demi terwujudnya kehidupan bersama yang semakin baik, harmonis, dan damai.

Dengan begitu, bencana ini dapat kita lalui bersama dengan spirit gotong royong. Yang mana, semangat dan energi untuk saling peduli dalam membantu dan menolong para korban tanpa melihat hubungan darah, etnis, dan agama.  Gotong royong harus dilakukan oleh semua lapisan masyarakat, terkhusus para penyelenggara negara. Sebab, gotong royong berarti memikul bersama beban negara dan bangsa ini.

Nilai-nilai dan kesadaran inilah yang sebenarnya sangat kita butuhkan. Aksi teror yang akhir-akhir ini menghantui bangsa kita, kemudian merebaknya provokasi dan ujaran kebencian yang tiada henti, menguatnya sentimen dan kebencian yang merenggangkan ikatan persaudaraan sebangsa. Kini, saatnya kita kembali bergandengan tangan, mengasah kepekaan, menguatkan kesetiakawanan sosial dan kepedulian pada sesama agar ikatan persaudaraan kita kembali menguat.

Budaya bangsa ini yaitu gotong royong, masyarakatnya terlahir dengan sikap kepedulian yang tinggi. Mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan persatuan, bukan kekerasan. Bencana yang menimpa NTT saat ini, meningkatkan rasa empati kita, dan menghilangkan rasa ketakutan dari ancaman teror. Terbukti dengan pemandangan masyarakat yang terjun langsung untuk membantu saudara kita, dengan menggunakan berbagai cara yang ada.

Misalnya, ada yang rela panas-panasan berdiri di samping-samping jalan, untuk mengumpulkan donasi. Banyak juga yang menggunakan media sosialnya untuk memberikan pesan semangat yang menguatkan kepada mereka. Mengumpulkan donasi melalui platform digital, yang biasanya dapat terkumpul mencapai jumlah milyaran rupiah. Banyak juga yang melakukan aksi doa bersama. Bukan hanya itu, banyak juga yang merelakan dirinya untuk menjadi relawan agar dapat membantu evakuasi langsung. Ini semua bukti kepedulian kita bersama. Semua langkah ini bentuk gotong royong terhadap saudara-saudara kita di sana. Meskipun kita tidak bertatap muka langsung, tetapi ini tidak mengurangi rasa kepedulian kita kepada mereka.

Dengan demikian, duka NTT, menjadi duka kita bersama. Duka yang harus kita hadapi dan lewati bersama. Tetap bergandengan tangan. Sebab, sesulit apapun masalah yang datang, jika kita lalui bersama, tentu itu akan terasa lebih ringan. Mari, kita tunjukan kekuatan bangsa ini melalui budaya gotong royong yang kita miliki. 

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Kolom

Milenial Bersatu Melawan Terorisme

Aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/03/2021) lalu menandakan paham ekstremisme masih hidup bebas di sekitar kita. Peristiwa kemarin, akan menambah sejarah kelam tragedi mengerikan terorisme di negeri ini. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa serupa, kaum milenial harus mengambil peran dalam melakukan hal-hal baik. Karena milenial adalah kekuatan negara yang nantinya memegang teguh tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa yang akan menuju ke peradaban lebih baik. Untuk itu, kaum milenial harus bersatu padu melawan terorisme agar ideologi tersebut tidak hidup bebas.
Kolom

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam. Pada waktu ini, Muslim yang mampu, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bulan suci umat Islam ini menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa bagi seluruh Muslim. Seseorang yang beribadah saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini tentunya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam.