Dunia IslamKolomNasihat

Visi Dakwah Menyambut Bulan Ramadhan

3 Mins read
Visi Dakwah Menyambut Bulan Ramadhan hqdefault 4
Sumber Gambar: https://tribunnewss.github.io/lakaran/post/ceramah-kartun/

Melihat fenomena kekerasan atas nama agama belakangan ini, kiranya perlu kita meninjau kembali visi dakwah kita dalam membimbing umat ke jalan Rahman dan Rahim. Apalagi menjelang bulan Ramadhan tahun ini. Bulan di mana rahmat Allah SWT. melimpah ruah bagi umat Nabi Muhammad SAW.

Tidak hanya dakwah dalam segi peningkatan taqwa, akan tetapi juga dakwah yang bernilai inklusif-konstruktif dalam konteks sosial kehidupan. Hal itu bukan berarti peningkatan takwa tidak penting. Namun dakwah yang lebih mengedepankan akhlak dirasa lebih visioner, baik dalam segi ruang sosial, ekonomi, maupun budaya. Sebab, banyak dakwah yang berkelindan dewasa ini, lebih mengusung perspektif ideologi dan politik kekuasaan. Tidak heran, Islam yang sakral dan agung ini, sangat rentan dimanipulasi demi kepentingan-kepentingan para elite penguasa.

Dakwah yang hanya berdasar pada ideologi dan politik, akan mendorong umat pada upaya penegakkan syariat Islam ala mereka sendiri. Mereka berangan-angan mencapai cita-cita ilahiah yang dalam bahasa Bassam Tibi dalam bukunya Ancaman Fundamentalisme: Rajutan Kekuasaan Politik dan Kekacauan Dunia Baru (2000), disebut sebagai kelompok fundamentalisme Islam yang merasa terancam dengan tatanan global. Sebuah respons atas problem-problem globalisasi dan fragmentasi dengan negara-bangsa sekuler sebagai sasaran utama para fundamentalis.

Terkait fundamentalisme agama dalam bukunya yang lain, Bassam Tibi (1998) juga mengatakan bahwa ideologi politik yang didasarkan pada politisasi agama, bertujuan untuk tertib ilahiah dalam mewujudkan sosio-politik dan ekonomi. Maka tidak heran, fundamentalisme sering berbenturan dengan entitas-entitas lain yang berakibat pada benturan peradaban, kata Thariq Ali.

Tidak dapat dipungkiri, kejahatan terorisme yang mengatasnamakan agama adalah buah dari doktrin eksklusif, politik, dan kesenjangan ekonomi-sosial. Keyakinan kuat dogma agama yang berkobar-kobar, didorong oleh dakwah ekstrem, radikal, dan intoleran berdasarkan teks-teks suci tentang jihad dan perang, dalam pandangannya terhadap hal-hal yang berbeda ini menjadi satu kekuatan jahat. Mereka berani menumpahkan darah yang mengerikan. Sangat di luar akal sehat manusia.

Apakah umat beragama akan terus-menerus melakukan kekerasan yang merusak harmonisasi kehidupan sesama manusia? Pertanyaan ini harus dijawab oleh para ulama kita yang perlu menafsir ulang terkait teks-teks suci dalam ijtihad yang dikontekstualisasikan di era kontemporer saat ini. Dakwah dengan visi mendukung segala kerjasama global untuk menciptakan perdamaian dan menghapus kekerasan terhadap orang lain, masih terhambat oleh pemahaman sebagian tokoh agama kita yang dinilai masih kaku, konservatif, dan tekstual terjemah.

Menyambut bulan Ramadhan tahun ini menjadi sangat krusial dan penting untuk mengembalikan visi dakwah yang lebih mengutamakan moralitas umat, pluralisme, toleransi antar umat beragama, dan demokrasi kebangsaan. Berangkat dari perspektif visi dakwah inilah, diharapkan umat Islam—sebagai khalifah Allah di bumi Allah—menjadi pioneer dalam gerak keadaban dan peradaban yang konstruktif bagi peradaban dunia modern.

Pluralisme, toleransi antar umat beragama, dan nilai-nilai kebangsaan, perlu digencarkan di seluruh aktivitas pendidikan, kajian, pesantren, majelis taklim, dan pengajian-pengajian umum maupun khusus. Pemahaman khalifah Allah di bumi, berarti harus bertanggung jawab atas segala hal dalam menjaga harmonisasi perdamaian, persaudaraan, dan menyeimbangkan alam. Dengan begitu, seluruh Muslimin-Muslimat menjadi pribadi yang amanat sebagai antitesis dari setan si penghasut manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak amanat.

Untuk mencapai itu semua, perlu upaya pengembangan visi dakwah yang lebih strategis dalam meningkatkan keimanan umat. Bagaimana membuat umat memiliki hati yang hidup, yang merasa tenang dalam mengingat Allah SWT. dan Nabi Muhammad SAW. dengan shalawat. Karena ketika ia merasa tenang, maka sedikit demi sedikit akan terbebas dari rasa dengki dan benci, sehingga akan mudah pula membangun tali persahabatan, persaudaraan. Iman mereka akan melampaui permusuhan.

Lalu bagaimana dengan ajaran jihad dan perang dalam visi dakwah? Menyangkut ajaran jihad dan perang, harus dipahami secara komprehensif. Perlu adanya pendekatan sosio-historis dari telaah tafsir. Jadi teks tersebut harus disesuaikan dengan konteks. Lalu, apakah era modern yang damai seperti di negeri kita ini perlu untuk melakukan perang? Perang dengan siapa? Pemerintah, pengusaha, dan aparat kepolisian juga saudara-saudara kita. Bagaimana bisa kita memerangi mereka dengan mengklaim menegakkan kalimat Allah? Apalagi kebanyakan pelaku terorisme belakangan ini banyak dari kaum muda.

Karena itu, visi dakwah kali ini harus berhenti melontarkan kata-kata makian, hinaan, menyerang, dan mengancam orang lain. Karena hal itu sama sekali tidak bermanfaat. Kita harus mulai mengemban tanggung jawab kita, mengakui kesalahan kita, dan berusaha keras untuk menawarkan solusi atas masalah-masalah kaum muda (Habib Ali al-Jufri, Kemanusiaan Sebelum Keberagaman 2019: 93). Kaum muda yang sedang dalam pencarian jati diri, tidak boleh sempit dan malas berfikir.

Saya yakin, dakwah Islam di Indonesia—berdasarkan akar sejarah generasi awal dakwah Islam di Nusantara—mampu membangun visi yang lebih strategis dalam infrastruktur dan suprastruktur era modern kekinian dan kedisinian. Instrumen dan bahan-bahan modern seperti digital teknologi, sains, dan keilmuan eksak lain yang juga bagian dari prestasi manusia.

Dalam menyambut bulan Ramadhan 2021, dibutuhkan visi dakwah Islam yang lebih kokoh dalam penguatan keimanan inklusif-konstruktif, sesuai dengan konteks kekinian, sehingga manusia modern yang menganggap Islam sebagai agama kekerasan adalah sebuah paham yang keliru. Visi dakwah yang menandai etika persaudaraan dan perdamaian untuk saling menyapa, melindungi, dan menciptakan nilai-nilai kebaikan spiritual yang bermanfaat bagi semesta alam. Demikianlah esensi rahmatan lil alamin dalam Islam yang sesungguhnya. []

Related posts
Kolom

Tradisi Puasa di Nusantara

Negeri ini memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia. Menurut data Pew Research Center, jumlah populasi Muslim di Indonesia saat ini sebanyak 219.960.000 Muslim atau 12,6 persen dari populasi Muslim di seluruh dunia. Di samping itu, sebagai negara yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, tentu Ramadhan disambut dengan gembira oleh Muslim Nusantara di seluruh penjuru Tanah Air. Hal tersebut menunjukan, bahwa negeri ini pasti memiliki cara atau tradisi tersendiri dalam berpuasa di bulan Ramadhan.
Dunia IslamKolomNasihat

Melatih Kejujuran dengan Berpuasa

Puasa Ramadhan merupakan bulan untuk melatih kejujuran diri. Berpuasa bukan berarti hanya menahan atau menunda makan dan minum saja, tetapi bagaimana kita…
Dunia IslamKolomNasihat

Kebahagiaan Orang Berpuasa

Pasca sebelas bulan umat Muslim relatif mendapati kebebasan mengoperasikan alat inderanya, di bulan Ramadhan mereka diperintahkan untuk menjalankan puasa. Praktisnya kita harus…