Dunia IslamKolomNasihat

Ramadhan Bulan Toleransi

2 Mins read
Ramadhan Bulan Toleransi 146742486557772061d8ee6 5affb6a9f13344144322bd03

Ramadhan merupakan bulan penuh rahmat, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga umat agama lain. Setiap Ramadhan, kita melihat pemandangan yang sangat indah dan menyejukkan. Yang mana, semua berlomba-lomba untuk menabur kebaikan. Mulai dari pembagian sembako hingga membagikan takjil gratis oleh umat Muslim maupun umat agama lain. Terlihat bahwa Ramadhan tidak mengenal istilah perbedaan atau bisa dikatakan sebagai bulan toleransi.

Di bulan Ramadhan ini, umat Islam diajarkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Memperbanyak ibadah, dan menahan diri dari segala yang membatalkan. Tidak hanya perihal menahan diri dari lapar dan dahaga saja, tetapi yang paling utama yaitu bagaimana kita menahan diri dari perkataan yang akan menyinggung perasaan orang lain, menahan tindakan yang akan menyakiti orang lain, apalagi sampai menyulitkan dan memutus rezeki orang lain.

Sebagai sebuah negara yang berbhineka, yang penuh keberagaman, tentu bulan Ramadhan menjadi bulan yang mengajarkan kita untuk saling mengerti satu sama lain, saling menghormati satu dengan yang lain, saling berbagi, saling menahan diri agar tidak menebarkan narasi-narasi kebencian di antara sesama yang dapat menimbulkan perpecahan di antara umat manusia.

Ramadhan mengajarkan kita untuk saling menghormati dan menghargai. Tidak hanya yang berpuasa yang mesti dihormati dan dihargai, tetapi yang tidak berpuasa pun berhak mendapatkan hal yang sama. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan kebebasan yang setara dengan memperhatikan kepentingan orang lain. Oleh karena itu, seharusnya tidak perlu ada aturan yang melarang warung-warung buka di siang hari. Sebab, larangan tersebut dapat mencoreng keberkahan di bulan yang telah penuh toleransi.

Selain non-Muslim yang tidak berpuasa, umat Islam yang sedang dalam perjalanan, wanita haid, dan ibu menyusui juga tidak mendapat kewajiban untuk berpuasa. Dalam hal ini, kita yang berpuasa juga harus menghormati mereka. Sebagaimana tujuan puasa itu sendiri untuk meningkatkan ketakwaan, dengan begitu warung-warung yang buka di siang hari, menjadi tantangan bagi kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita di bulan suci ini.

Selain itu, kita tahu bahwa bulan Ramadhan identik dengan berbagai jajanan lezat untuk berbuka puasa. Nah, pada momen inilah semua kalangan memanfaatkannya untuk mencari rezeki. Para pedagang baik Muslim maupun non-Muslim, sama-sama saling menghormati dan justru saling membantu menjajakan makanan untuk para umat Muslim yang tengah berpuasa.Non-Muslim pun tentu dapat menikmati hidangan atau jajanan yang disuguhkan selama Ramadhan.

Kemudian, ada momen terpenting yang sering dilakukan setiap bulan Ramadhan, yaitu bukber alias buka bersama. Momen ini tentu dapat menyatukan semua kalangan. Bahkan, non-Muslim sekalipun ikut menemani berbuka puasa, dari sahabat, kekasih, atau keluarganya yang Muslim. Biasanya, penulis setiap buka bersama teman-teman SMA, teman yang non-Muslim pun, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Sambil menunggu adzan sebagai penanda buka puasa, kita semua mengobrol dan bercanda. Mereka pun menghormati teman-teman yang berpuasa dengan tidak makan atau minum sebelum waktu berbuka.

Bukan hanya itu, biasanya umat non-Muslim pun sering membagikan takjil gratis bagi umat Muslim yang berpuasa. Bahkan, mereka rela terjun langsung ke jalan untuk membagikan makanan berbuka. Ternyata, selain mengucapkan selamat berbuka kepada umat Muslim, umat non-Muslim pun menyambut Ramadhan dengan kebaikan-kebaikan yang luar biasa. Hal ini menjadi potret yang sangat indah bagi bangsa kita.

Dengan demikian, Ramadhan menjadi bulan untuk kita menebarkan kasih sayang, dengan saling mengasihi, menyayangi, dan menjaga antar umat beragama. Seluruh umat manusia bersatu dan menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita. Baik Muslim, maupun non-Muslim, semuanya saling bekerja sama dalam hal kebaikan. Di bulan suci ini, umat non-Muslim menghargai umat Muslim, dan begitupun sebaliknya. Tanpa, paksaan. Hal itu telah terbukti dan terus menjadi kesadaran antar umat beragama di negeri ini.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…