Kolom

Ramadhan Syahrul Jihad

2 Mins read
Ramadhan Syahrul Jihad ramadhan keren

Sejarah Islam mencatat bahwa perjuangan umat Islam banyak dilakukan di tengah-tengah bulan Ramadhan. Tidak sedikit sejarah perang militer Islam di zaman Nabi Muhammad SAW mendapat kemenangan, diantaranya seperti perang Tabuk  dan perang Badar sehingga bulan juga dilabeli sebagai syahrul jihad.

Bukan tanpa sebab sehingga bulan ramadhan digelar dengan hal sedemikian rupa, hal ini dimana selama satu bulan penuh umat muslim dituntut untuk menjalani berpuasa dan ditempa ,diuji dalam arena perjuangan baik melawan hawa nafsu mengatasi gangguan shaum, maupun perjuangan mengembangkan dan menegakkan perintah agama. Seperti yang dititipkan oleh Rasullah dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda: “Mujahid adalah orang yang bisa melawan dirinya sendiri.” (HR. Tirmizi).

Jika dalam sejarah, Rasullah memerangi kelompok musyirikin mekah-madinah atupun dari berbagai kerajaan lainnya dikerana mengancam akan berkembangnya Islam sebagai agama serta melindungi orang-orang muslim dari berbagai bahaya perang. Namun, sayangnya jihad diera modern sekarang sudah tidak lagi berjalan pada  rotasinya lagi, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasullah SAW. Pemaksaan keyakinan dan ideologi sekarang secara terang-terangan dilakukan oleh sebagian oknum umat muslim baik secara individu maupun secara kelompok, selain itu Rusullah SAW menegaskan bahwa Jihad adalah semangat untuk memenangkan segala hal sesuai dengan keridloan Allah SWT dan tuntunan Rasulullah SAW.

Demensi jihad diera modern memang memiliki masalah yang komplek, selain menjadi bahan bakar semangat umat Islam, juga menjadi olok-olokan jika disalah gunakan oleh kelompok tertentu seperti kelompok terorisme dan kelompok radikalis. Apalagi berbagai tokoh publik secara terang-terangan mendukung  penyebaran Islam dengan cara pemaksaan, namun jika ditelisik lebih jauh Islam hanya sekedar jubah untuk melindungi dari serangan atupun hukuman.

Menurut Habib Jindan, Muslim yang asli dan sejati adalah yang mereka yang tidak mengganggu orang lain. Setiap orang boleh mengklaim dan mengaku bahwa dirinya adalah Muslim sejati. Namun ucapan, pembuktian, dan standar yang paling benar adalah ketika ia mampu membuat muslim lain selamat dari gangguan mulut dan tangannya. Kenapa didahulukan mulut dari tangan? Sebab tangan menurut Habib Jindan memiliki jangkauan yang pendek. Tangan hanya bisa mengganggu yang hidup dan tangan hanya bisa menggangu yang dekat dan sezaman dengan yang bersangkutan.

Seperti terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 216 disebutkan: “Diwajibkan atas kamu berperang. Padahal perang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu. Padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui. Sedangkan kamu tidak mengetahui.” 

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan perang kepada umat Islam. Namun, sebenarnya umat Islam merasa berat dan tidak senang terhadap peperangan. Jiwa umat Nabi Muhammad sudah terdidik untuk cinta pada perdamaian sehingga ketika turun ayat ini Allah menambahkan dengan kalimat wa huwa kurhul lakum (padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci).

Diriwayatkan dalam satu masa, bagaimana Rusallah menghargai kehidunan dan hak-haknya. Hak hidup bagi manusia merupakan salah satu hal yang wajib dilindungi dalam Islam, yaitu kewajiban memelihara jiwa (hifdzun nafs).

Memelihara jiwa ini meliputi jiwa diri sendiri dan jiwa orang lain.  Maka dari itu, Nabi Muhammad SAW sendiri tidak menyukai seseorang yang meninggal dengan cara bunuh diri dengan tujuan apapun. Bahkan Nabi Muhammad tidak mau menshalatkan jenazahnya, Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Jabir bin Samurah, “Pernah didatangkan kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam jenazah seorang laki-laki yang bunuh diri dengan anak panah. Tetapi jenazah tersebut tidak dishalatkan oleh beliau.” (HR Imam Muslim).  Singkatnya, jihad adalah meningkat kan rasa nasionalisme kepada tanah air bukan menjadikan jihad sebagai pelampiasan serta menghalakan segala cara demi memenuhi ambisi sendiri.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…