Kolom

Kartini dalam Emansipasi Masa Kini

2 Mins read
Kartini dalam Emansipasi Masa Kini Illustrasi wajah RA Kartini yang dibuat pertama kali oleh komikus dari Medan Zam Nuldyn Geotimes Zenius Education

Hari Kartini menjadi salah satu hari penting yang setiap tahunnya wajib diperingati oleh kita. 21 April, bukan saja semata-mata mengenang sosok Kartini, tetapi lebih dari itu. Hari Kartini baiknya tidak hanya dimeriahkan karena mengenang hari kelahiran seorang puteri bangsawan, tetapi lebih kepada perjungannya dalam emansipasi perempuan yang terbelenggu dalam jeratan budaya patriarki. Kita ketahui bersama, perempuan tidak hanya di Jawa, tetapi juga dunia memiliki sejarah kelam yang dramatis. Bagaimana tidak? Perempuan pada masa itu selalu dipandang kecil dan dilarang berkembang. Perempuan selalu di tempatkan pada posisi terbelakang dalam segala hal.

Dalam konteks Indonesia, kehadiran Kartini dengan semangat emansipasinya tidak saja melabrak budaya patriarki yang mengakar, tetapi juga telah membawa satu harapan pijar masa depan. Namun, dalam perjalanannya persoalan gender tidak juga menemukan titik akhir. Kesenjangan gender hingga kini masih menjadi persoalan bersama. Oleh karena itu, hari Kartini sekarang harus menjadi momentum energi positif kita, khususnya para wanita meneruskan perjuangan emansipasi perempuan di masa kini.

Di Indonesia, masalah gender muncul dalam bahasa emansipasi wanita yang menggunakan ikon R.A. Kartini. Gerakan emansipasi wanita yang dilakukan Kartini, telah merintis jalan yang terang untuk membawa kaum perempuan dan perhatian bangsa Indonesia ke arah cita-cita nasional. Walaupun perjuangan Kartini belum pada tahap keberhasilan, tetapi Kartini tetap optimis bahwa cita-citanya akan dapat diteruskan oleh generasi berikutnya. Kartini sadar bahwa untuk mencapai cita-citanya itu, masih cukup banyak rintangan dan hambatan yang sulit untuk dihindarkan.

Dalam penafsirannya, hanya melalui pendidikan dan pelajaran yang baik, maka kedudukan dan kebahagiaan perempuan dapat diperbaiki dan setera dengan kaum pria, dalam kehidupan di masyarakat. Tergambar dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, karya R.A. Kartini terjemahan Armin Pane, Kartini bermimpi, alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan didikan karena inilah yang akan membawa bahagia baginya”

Munculnya ide emansipasi wanita oleh Raden Ajeng Kartini membawa pengaruh besar dalam pergerakan kaum perempuan di Indonesia. RA Kartini yang merupakan pelopor dan pendobrak ketertindasan kaum perempuan mampu mengangkat martabar kaumnya dengan memajukan pendidikan untuk kaum perempuan itu sendiri. Perjuangan RA Kartini tersebut menumbuhkan semangat perjuangan terhadap kaum perempuan Indonesia untuk melawan tradisi yang sudah mengikat dan kuat tersebut.

Dalam konteks hari ini, setelah sekian lama Kartini tiada, bukan berarti emansipasi perempuan sudah berada di titip tertinggi. Nyatanya belum, masih banyak kaum perempuan yang berada dalam titik sosial terendah. Sulit mendapatkan keadilan, baik hukum, pendidikan, ekonomi, maupun sosial.

Perempuan dengan segala dinamikanya memang seakan menjadi sumber inspirasi yang tak kan pernah habis. Merebaknya kajian yang membahas tentang isu perempuan merupakan suatu kelaziman dibanding mencuatnya permasalahan yang membahas tentang isu laki-laki. Kecenderungan itu muncul karena tak dapat dipungkiri bahwa fenomena kesetaraan gender masih banyak ditemukan di dalam keseharian kita.

Harus diakui, bahwa posisi perempuan dalam kebudayaan kita tidaklah seberuntung dan sebaik posisi laki-laki. Dalam sejarah peradaban manusia, perempuan seakan difeta kampli. Untuk menempati posisi belakang. Realitas tersebut diperparah dengan adanya dikotomi konstruksi sosial, khususnya dalam pembagian kerja dimana perempuan ditempatkan di wilayah domestik dan laki-laki di wilayah publik yang secara empirik menempatkan perempuan dalam wilayah inferior di bawah kekuasaan laki-laki. Karena itu, kesadaran tentang perjuangan Kartini dulu tentang emansipasi perempuan tidak boleh redup dan redam. Kartini memang telah tiada, tetapi semangatnya harus tetap menyala menerjang badai, menabrak penindasan demi terciptanya sebuah keadilan.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…