Kolom

Merawat Bumi, Merawat Kebangsaan

2 Mins read
Merawat Bumi, Merawat Kebangsaan Hari Bumi Sedunia atau Earth Day

Sebagai khalifah Allah di bumi, sudah barang tentu manusia memiliki beban tanggung jawab terhadap bumi dan seisinya. Seperti, menjaga alam dan memakmurkannya demi kesejahteraan manusia, serta melestarikan alam dan seisinya demi menjamin kelangsungan hidup generasi masa depan bangsa. Peringatan Hari Bumi menjadi momentum, untuk kita kembali mengingat tugas kita sebagai khilafah di bumi.

Kita sadar betul bahwa bumi dan seisinya ini merupakan karunia Allah SWT yang harus kita jaga kelestariannya. Kita harus bisa menjaga kelestarian bumi agar dapat dinikmati oleh anak cucu dan generasi masa depan kita secara berkesinambungan. Menjaga kelestarian alam berarti upaya mengabadikan, memelihara dan melindungi alam dari perubahan yang  negatif.

Dalam konteks Islam misalnya, agama direpresentasikan sebagai rahmatan Iil Alamin, yang mana syari’atnya tidak hanya untuk umat Islam saja. Syariat Islam juga untuk semesta alam ini. Atas dasar ini, Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi alam, sebagaimana firman Allah, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiya [21]: 107)

Ayat di atas menjelaskan bahwa kata rahmat ini meliputi seluruhnya, termasuk bumi dan seisinya. Oleh karena itu, Islam mengajarkan untuk mencintai bumi dan menjaga kelestariannya. Menurut ayat di atas, menjaga keberadaan dan kelestarian bumi itu harus dilandasi dengan rasa kasih dan sayang.

Selain ayat di atas, bahwa makna melestarikan bumi berarti menjaga keberadaan alam dengan landasan rasa cinta dan kasih sayang itu, juga diinspirasi oleh hadis Rasulullah SAW sebagai berikut: Orang-orang yang memiliki sifat kasih sayang akan disayang oleh Allah yang Maha Penyayang, sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu. Kasih sayang itu bagian dari rahmat Allah, barangsiapa menyayangi, Allah akan menyayanginya. Siapa memutuskannya, Allah juga akan memutuskannya (HR. Tirmidzi)

Kandungan dari ayat dan hadis di atas menegaskan, bahwa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan kelestarian bumi berdasarkan kasih dan sayang. Rasa cinta kasih sayang sudah menjadi kebutuhan pokok manusia dalam kehidupannya. Oleh karena itu, kita harus mencintai bumi untuk generasi penerus bangsa. Pertanyaannya, bagaimana cara kita melestarikan alam berdasarkan kasih dan sayang?

Dalam menjawab pertanyaan ini, sedikitnya kita membutuhkan satu cara yang aktif dan masif. Yakni, menjaga bumi dengan pendekatan ekologis. Artinya, kita menggunakan kaidah, bahwa manusia itu adalah makhluk lingkungan sebagai landasan dalam melestarikan alam ini. Kaidah tersebut mengandung dua pesan moral penting. Pesan moral pertama, manusia itu membutuhkan alam sebagai tempat melangsungkan kehidupannya. Fakta menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup di luar alam. Sebab, alam telah menyediakan fasilitas kehidupan bagi manusia berupa daya dukung lingkungan secara sempurna.

Adapun pesan moral yang kedua, alam itu juga membutuhkan manusia. Sebab, manusia merupakan makhluk yang paling berpeluang menjadi makhluk yang bertanggungjawab dalam tindak pelestarian alam ini. Manusia sebagai subyek pengelola alam mampu membuat perencanaan, mampu melaksanakan dan mampu mengawasi tindak pelestarian alam baik yang dilakukan oleh manusia sendiri ataupun yang dilakukan oleh komponen lain. Dengan demikian, pelestarian alam memerlukan partisipasi aktif dari manusia.

Sebagai upaya nyata dari pendekatan ekologis di atas, kita memahami pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan sekitar. Kita akan mendidik orang-orang terdekat kita, anak, istri dan anggota keluarga untuk membuang sampah pada tempatnya. Selanjutnya, kita akan mendorong orang lain yang secara khusus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mendaur ulang sampah menjadi bahan lain yang bernilai ekonomi.

Kita melakukan hal ini, tentu di latar belakangi terhadap kesadaran, bahwa membiarkan sampah berserakan di mana-mana akan membuat bumi menjadi kotor. Dampaknya terburuknya, bumi tidak lagi ramah dan nyaman untuk kita tinggali, sehingga perubahan iklim ekstrem akan datang dan berpengaruh terhadap kesehatan manusia, serta keberlangsungan masa depan bangsa.

Oleh karena itu, hari ini, yang merupakan Hari Bumi Dunia, merupakan momentum penting bagi kita bersama, merajut kesadaran tentang pentingnya merawat bumi dan seisinya. Sebab, bumi merupakan satu-satunya rumah kita di dunia, sebagaimana rumah maka harus dirawat dan dijaga sepenuh hati dan kasih. Dengan merawat bumi, berarti kita sudah memberi harapan dan warisan baik terhadap generasi penerus setiap bangsa. Selamat Hari Bumi Dunia.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…