Dunia IslamKolom

Puasa Ramadhan Momentum Introspeksi Diri

2 Mins read
Puasa Ramadhan Momentum Introspeksi Diri ramadhan al mubarak

Bulan Ramadhan memiliki makna yang sangat besar bagi umat Islam, terutama dengan kemuliaan dan keberkahan yang ada di bulan ini. Kedatangannya yang selalu disambut antusias dan bahagia. Sebaliknya ketika perginya menyebabkan pilu yang mendalam, khawatir tak dapat berjumpa kembali. Amat banyak amalan-amalan yang dapat kita lakukan di bulan Ramadhan ini. Ramadhan adalah momen yang sangat tepat untuk introspeksi diri, memohon ampunan dosa kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadisnya menjelaskan mengenai ampunan Allah SWT di bulan Ramadhan. Hadis tersebut yang artinya, Sholat lima waktu, Jumat ke Jumat dan Ramadhan ke Ramadhan, menghapuskan dosa-dosa diantara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi (HR Muslim). Pada bulan Ramadhan pulalah Allah buka pintu-pintu Syurga. Seperti yang diterangkan dalam sebuah hadis, Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu Syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu (HR Bukhari).

Puasa, sebagai ibadah yang disyariatkan oleh Allah SWT, seharusnya menjadikan diri semakin mengenal Tuhannya dan semakin paham siapa diri kita sebenarnya. Dengan begitu, segala sifat-sifat yang tidak terpuji selayaknya kita tinggalkan. Puasa tidak sekedar ritual tahunan yang berisi ruang peribadatan. Namun puasa menghadirkan ruang untuk merenungi diri dan berkontemplasi. Terlebih saat ini kita masih dihadapkan pada pandemi Covid-19, maka jalan menuju Tuhan sepantasnya dijalani dengan lebih bersemangat. Sebab, pada siapa lagi kita mengadu kalau tidak kepada yang Maha Segala, Allah Aza Wajala.

Lantas, bagaimana menjadikan puasa Ramadhan sebagai momentum untuk intropeksi diri? Setidaknya ada tiga cara. Pertama, menjadikan puasa untuk keimanan dan kesehatan. Artinya, berpuasa di bulan Ramadhan tidak sekedar menahan lapar dan haus belaka, tetapi juga melatih kesabaran dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Seseorang yang berpuasa karena keimanan, dia akan menjaga perilaku dan puasanya tanpa perlu diawasi kecuali karena ketaqwaan.

Secara fisik, puasa bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Saat berpuasa, sistem pencernaan kita memiliki waktu untuk beristirahat, setelah selama sebelas bulan selalu bekerja setiap hari dengan dijejali makanan dan minuman. Puasa membuat kita membatasi dan memilih asupan yang baik untuk tubuh. Pada akhirnya puasa menjadi sarana detokfikasi untuk membuang racun-racun yang ada di tubuh manusia.

Yang kedua, puasa untuk meningkakan kesehatan bathin. Setiap orang diberikan ruang intropeksi melalui rangkaian ibadah yang dijalankannya. Misalnya, setelah sholat tarowih, kita dapat melanjutnya dengan itikaf sambil berdzkir dan bermuhasabah. Perilaku ini sesuai arahan sabda Nabi SAW, Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiasalah dengan amal sholeh untuk pagelaran agung pada hari kiamat kelak (HR. Tirmidzi). Dengan menjalankan berbagai ibadah di bulan puasa, umat Muslim akan semakin mendekatkan kepada Sang Pencipta.

Yang ketiga, puasa untuk mengasah jiwa sosial. Ramadhan tidak hanya ibadah rohani, namun juga menjadi kesempatan meningkatkan ibadah sosial demi memproleh keberkahan yang berlimpah. Ibadah sosial dapat berupa kegiatan sedekah, membagikan takjil atau makanan untuk berbuka dan sahur. Memperhatikan dan membantu orang lain yang membutuhkan dapat mengasah kepekaan sosial serta mempererat tali silaturakhmi.  

Demikianlah, serangkaian ibadah yang kita lakukan itu, diharapkan semakin membuat kita semakin menambah ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Dengan keberkahan Ramadhan dan nilai religius yang terkandung dalam Ramadhan, adalah merupakan waktu yang tepat untuk bermuhasabah diri. Sebab di bulan inilah, pintu-pintu syurga dibuka, ampunan Allah terbuka tiada terbatas, ganjaran pahala bagi hamba yang berbuat kebaikan dilipat gandakan, dan di bulan ini pula adanya satu malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Oleh karnanya, mari jadikan puasa Ramadhan momentum introspeksi diri.

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…