BeritaDunia IslamKolomNasihat

Paradoks Bulan Suci Ramadhan

3 Mins read
Paradoks Bulan Suci Ramadhan exl9xmw0th2e89w83jug
Sumber Gambar: https://kumparan.com/kumparanbisnis/indonesia-masuk-daftar-negara-yang-warganya-paling-hobi-belanja-1rc48fP1dhR/full

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang dinantikan, bulan yang dirindukan turunnya rahmat dan berkah, karena bulan turunnya al-Quran (syahr al-Quran), di mana kitab suci ini sebagai landasan utama umat Islam menjalani kehidupan di dunia ini. Bulan suci Ramadhan juga mengandung makna dan nilai kejujuran, kesederhanaan, pengendalian hawa nafsu, dan ukhuwah sosial, serta meningkatnya iman dan takwa dalam mencari ridha Allah SWT.

Namun, pada bulan suci Ramadhan ini juga tidak sedikit paradoks yang terjadi—dua peristiwa terjadi bersamaan dan dua hal yang saling bertentangan atau kontradiksi—karena sudah mengakar dan membudaya dalam masyarakat kita. Sebagian umat tidak sadar perilakunya telah bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam bulan suci Ramadhan. Saya uraikan beberapa paradoks pada bulan suci Ramadhan yang dapat merusak kualitas ibadah puasa kita.

Paradoks yang pertama, biasanya menjelang puasa, kita sedikit panik karena belum menyiapkan dan menumpuk makanan apa saja yang diperlukan. Hal itu dianggap sebagai perilaku konsumtif. Kebiasaan boros berbelanja atau berlebihan hingga tidak sadar bahwa puasa sebagai ajang pendidikan yang mengajarkan kesederhanaan dengan menahan rasa lapar dan dahaga sebagaimana dirasakan oleh kaum fakir-miskin.

Kebiasaan konsumtif ini berlanjut, bahkan cenderung meningkat saat akhir Ramadhan, yakni menjelang hari raya Idul Fitri. Paradoks yang sudah membudaya dalam kehidupan kita itu dalam rangka menyambut Idul Fitri harus dengan pakaian, perhiasan, dan aksesoris lainnya yang serba baru. Sebagian umat berharap pulang kampung menjadi ajang pamer mobil baru, pakaian mahal, dan banyak barang branded lain dengan modus silaturahim.

Padahal, nilai substansi dari Idul Fitri adalah kemenangan, dengan meningkatnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT sebagai buah dari perjuangan dalam mengendalikan hawa nafsu selama satu bulan penuh. Semestinya, pendidikan spiritual di bulan suci Ramadhan membentuk hidup sederhana.

Pola konsumtif yang mubazir ini, akan lebih bermanfaat jika dialihkan untuk membantu kaum lemah. Apalagi kita semua tengah menghadapi situasi pandemi Covid-19 yang tak menentu kapan berakhir, dan juga bencana alam yang terus menjadi headline utama di berbagai media.

Paradoks yang kedua adalah semangat amaliah ibadah hanya pada waktu awal bulan Ramadhan. Barisan saf shalat lima waktu dan tarawih malam, kian berkurang di pertengahan bulan sampai kurang lebih delapan sampai sembilan puluh persen dari sebelumnya ketika akhir bulan Ramadhan.

Padahal, menjelang akhir bulan Ramadhan atau menurut banyak riwayat, berada di sepuluh hari terakhir, terdapat satu malam yang bernilai mulia yang setara dengan 1000 bulan. Yakni, malam lailatul qadar yang diharapkan seluruh umat Islam seluruh penjuru bumi. Berbahagialah mereka yang pada malam istimewa itu sedang berbuat atau beramal baik. Mereka akan mendapatkan pahala senilai beramal baik 1000 bulan (KH. A. Mustofa Bisri, 2019: 82).

Tidak hanya meninggalkan saf barisan shalat, mereka juga biasanya bergembira menyambut hari lebaran. Padahal, orang yang hari-harinya dipenuhi ibadah, tadarus al-Quran, dan hal-hal postif lain akan sangat berduka karena bulan suci akan segera pergi.

Paradoks selanjutnya adalah melaksanakan ibadah puasa dengan menahan lapar dan dahaga, tapi tidak kuat menahan ujian kesabaran. Beberapa kelompok masyarakat merasa terganggu dengan rumah makan yang buka di siang hari dan tertutup hordeng itu. Lalu cara menegurnya yang sedikit menyakiti. Mereka kadang-kadang berperilaku anarkistis dengan dalih menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, tapi perbuatannya mengandung kemungkaran. Sudah jelas, bahwa puasa mengajarkan kesabaran dalam mengendalikan hawa nafsu. Jika memang ada yang beraktivitas makan atau minum di hadapan kita, santai saja seharusnya, karena memang itulah ujian dari Allah apakah kita bisa menahan godaan itu atau tidak.

Belakangan, Satpol PP sweeping warteg dan rumah makan kecil di sejumlah daerah. Rumah makan yang buka di siang hari, di razia oleh Satpol PP Tasikmalaya, Kota Serang, DKI Jakarta, Kota Depok, dan lainnya. Sementara restoran mahal melakukan hal yang sama saat bulan puasa, baik yang di mall, ruko plaza, maupun tempat lainnya, akan tetapi tidak ditindak atau dirazia.

Paradoks Satpol PP ini tentu saja menimbulkan banyak tanda tanya. Kurang pekerjaan atau bagaimana Satpol PP merazia warung makan kecil itu? Terus mengapa restoran yang mahal justru dibiarkan buka di siang hari tidak ditindak juga? Apakah warung makan kecil tidak boleh miskin dengan membuka rumah makan siang hari? Saya kira semua tindakan paradoks itu sangat berlebihan dengan dalih menjaga kondusifitas. Justru tidak boleh ada tindak kekerasan kepada siapapun dan atas nama apapun.

Paradoks berikutnya adalah produktivitas yang menurun alias bermalas-malasan. Tidur malam berganti siang, karena konsumsi makanan beralih ke malam hari. Paradigma yang melekat di masyarakat, yang paling sering disampaikan orang adalah tidurnya orang yang sedang berpuasa itu bernilai ibadah. Maka yang menjadi pilihan dan alasan ibadah lain diantaranya tidur siang hari. Semestinya logika permikirannya geser sedikit bahwa tidurnya saja bernilai ibadah, apalagi bila disibukkan dengan bekerja keras, beraktivitas, dan berkegiatan positif.

Sejarah kegemilangan Islam juga beberapa terjadi pada bulan suci Ramadhan. Perang Badar yang dikomandoi oleh Rasulullah SAW saat berpuasa, tentu saja membutuhkan tenaga yang prima, fisik yang kuat, kesabaran jiwa, dan keimanan secara total. Penaklukan Spanyol dan kemenangan perang salib juga seringkali terjadi pada bulan suci Ramadhan.

Artinya, Ramadhan tidak bisa dijadikan alasan berkurangnya produktivitas dan bermalas-malasan. Justru ibadah ritual (mahdhah), ibadah sosial (muamalah) harus lebih ditingkatkan. Banyak pula orang yang terlihat sibuk dan banyak menjalin relasi sosial, tetapi tidak memberikan kontribusi kebermanfaatan apa-apa untuk masyarakat banyak. Hanya untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri.

Saya kira itulah beberapa paradoks bulan suci Ramadhan yang mesti kita renungkan bersama-bersama, agar kita menjadi seorang yang senantiasa bertakwa. Mari kita gapai ridha Allah SWT dengan mengisi hal-hal positif pada bulan suci Ramadhan. []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…