Dunia IslamKolomNasihat

Humanisme dalam Tawaf

3 Mins read
Humanisme dalam Tawaf Tawaf

Tidak tepat jika ritual dalam ibadah haji hanya dianggap tentang persoalan vertikal-ketuhanan saja. Setiap elemen yang ditetapkan menjadi rangkaian haji pasti membawa serta pesan kemanusiaan. Allah tidak mendikotomikan spirit ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Maka dari itu, dimensi vertikal dan horizontal adalah sama pentingnya. Berputar tujuh kali mengitari Ka’bah ialah ibarat proses transformasi seorang manusia menuju totalitas umat manusia yang hidup bersama dengan selalu mendekat pada Allah. Melalui praktik tawaf kita diseru untuk bergerak, membaur, dan bahu-membahu menata pergaulan yang baik di antara manusia.

Mengapa penggalian pesan kemanusiaan dari ritual haji menjadi penting? Sebab banyak terjadi paradoks dalam lanskap sosial kemasyarakatan. Tidak sedikit orang yang berangkat haji hanya untuk menaikkan status sosial dan absen dari kontribusi kemasyarakatan. Benar-benar minus penghayatan. Gelar haji yang disandang seseorang adalah tanggung jawab lebih untuk semakin peka dan peduli pada persoalan yang mendiami umat. Bukan untuk tren atau kehormatan. Menjadi hamba yang fungsional dan kontributif, itulah tugas seorang khalifah Tuhan.

Kita diminta untuk terjun dalam orbit kemanusiaan, yang itu didemonstrasikan melalui tawaf. Ketika bertawaf, kita berputar di luar Ka’bah, kita tidak boleh memasukinya ataupun berhenti di sekitarnya begitu saja. Dengan ini Allah memberi isyarat kepada kita untuk terjun dalam arus manusia yang bergemuruh dalam pusaran tawaf secara total. Menjadi pribadi yang lebih peka dan tidak egois.

Sebelum jauh-jauh membahas tanggung jawab sosial orang yang berhaji selepas pulang ke wilayahnya masing-masing, ketika berada di Tanah Suci ia pun harus dengan seksama mempraktikkan etika kemanusiaan. Seringkali, karena dorongan ingin kesempurnaan dalam ritual haji, mereka berebut untuk mencium hajar aswad hingga mungkin tak peduli bahwa mereka telah melukai atau menginjak-injak orang lain. Oleh sebab itu, tidak satu dua kali ada korban jatuh, baik yang terluka maupun meninggal dunia. Semestinya keselamatan diri dan orang lain menjadi prioritas ketimbang memaksa mengamalkan sunnah.

Lebih daripada itu, haji sendiri tidak hanya menyangkut manusia sebagai pribadi. Syarat utama ibadah ini adalah istitha’ah (kemampuan) baik finansial, mental, maupun kesehatan. Seseorang yang berangkat haji harus memastikan keluarga yang ditinggalkan tercukupi kebutuhan hidupnya. Perhatian pada bagaimana nasib manusia adalah bagian integral dari haji baik secara umum maupun detail praktiknya.

Kesatuan manusia dalam praktik tawaf, melebur dalam ciri universalitas. Tidak ada kamar-kamar untuk perbedaan ras, warna kulit, strata sosial, karena semua sama. Batas-batas perbedaan dan jarak dihancurkan. Yang menonjol hanyalah keimanan dan tindakan.

Mereka sekalian memikul tanggung jawab keumatan. Untuk itu, sesiapa yang masih egois hanya mementingkan diri sendiri, maka ia sama sekali bukan bagian dari lingkaran tawaf. Jika diibaratkan, orang itu hanya seperti pelancong yang berdiam di tepi sungai, tidak mau menceburkan diri dan bersinggungan dengan yang lain. Mereka yang hanya terfokus dan tak lepas dari dirinya sendiri adalah manusia yang mati serta statis.

Tawaf adalah simbolisasi perjalanan hidup manusia. Mereka berasal dan akan kembali hanya kepada Allah SWT. Saat tawaf kita seakan sedang mendekati-Nya berulang kali, konsisten, dan tekun. Bukan hanya manusia, jagat makrokosmos juga demikian, berputar dengan setia pada porosnya. Melanggengkan tasbih kepada Tuhan sepanjang masa.

Mendekati Tuhan adalah dengan meniti jalan-Nya. Dan jalan Allah ialah jalan umat manusia. Bahasa lainnya, untuk mendekati Tuhan kita terlebih dahulu harus mendekat pada manusia. Praktisnya seseorang harus benar-benar terjun ke dalam berbagai persoalan insan dengan melakukan pengorbanan, kedermawanan, yang diiringi ketaatan. Jangan mengisolasi diri, bersembunyi di balik ketaatan semu. Perilaku agamis tidak hanya yang berkaitan dengan rukuk sujud atau bunyi ayat suci. Merangkul mereka yang kesusahan juga merupakan perjalanan spiritual.

Setiap perbuatan yang dilakukan di Tanah Suci memiliki arti penting. Paket haji yang disyariatkan Islam harus dimaknai, agar haji tak sekadar menjadi gerak badan dan modal finansial yang sia-sia. Tawaf adalah gerakan yang merefleksikan organisasi dunia. Ritual ini mengajarkan kita untuk mengedepankan altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) daripada egoisme. Pengorbanan serta pengabdian untuk kemanusiaan merupakan gerakan abadi di jalan manusia.

Dengan menyelami lautan manusia dan merasakan energi cinta Tuhan saat tawaf, akan timbul pengakuan sebagai makhluk yang sama rendah. Untuk itu, eksistensi kita sebagai hamba kemudian harus dipertangggungjawabkan dengan menghidupkan rasa kemanusiaan dalam orbit abadi Tuhan. Apa gunanya predikat saleh jika sikap apatis masih lestari. Konsekuensi dari praktik haji adalah laku peduli. Wallahu a’lam. []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…