Dunia IslamKolomNasihat

Memahami Maksud Hadis Al-Hajju ‘Arafah

3 Mins read
Memahami Maksud Hadis Al-Hajju ‘Arafah Haji Ilustrasi dok scaled
JIBI/Bisnis Indonesia/AP Photo/Hassan Ammar BERDOA — Seorang jemaah calon haji berdoa di bukit batu di Jabal Rahmah, Padang Arafah, Saudi Arabia, Senin (15/11). Jutaan jemaah haji dari seluruh dunia memadati Jabal Rahmah ketika berziarah di bukit itu menjelang wukuf. Wukuf merupakan puncak pelaksanaan ibadah haji. SOLOPOS 16 NOV 2010 HAL 1 FOTO HL

Wukuf di padang Arafah merupakan satu dari sekian rukun haji yang harus dilakukan oleh para peziarah Baitullah. Mengenai Arafah, terdapat satu hadis yang kerap mengemuka, penggalannya berbunyi Al-Hajju ‘Arafah. Sabda Nabi tersebut mengindikasikan pentingnya kedudukan wukuf di Arafah dalam haji serta kedalaman muatan maknanya. Ada yang kemudian memahami bahwa haji cukup dengan wukuf di Arafah saja. Asumsi ini terdengar problematis dan mengundang tanda tanya. Maka dari itu, menilik maksud dari hadis tadi menjadi penting untuk mendapatkan pemahaman yang proporsional dan ibrah di balik ritual itu.

Sabda Nabi tersebut bermula ketika serombongan orang dari Najd bertanya kepada Rasulullah SAW, saat itu beliau sedang berada di Arafah. Satu di antara mereka bertanya,”Bagaimanakah kami melaksanakan haji?” Kemudian Rasulullah SAW menjawab, (Inti) haji adalah wukuf di Arafah, barang siapa yang mendapati malam Arafah sebelum terbit fajar dari malam jam’ (malam mabit di Muzdalifah) maka hajinya telah sempurna. Hadis tersebut telah diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, Imam al-Nasa’i, dan Imam Ibnu Majjah.

Prosesi wukuf di Arafah ini dipahami sebagai pokok daripada ibadah haji. Berdiam diri di Arafah menjadi rukun haji yang paling agung. Demikian ungkap Ibnu Hajar dalam kitabnya, Fath al-Bari. Al-Sindi pun menyatakan hal yang sama dalam Hasyiyah Sunan Ibnu Majah. Jika seorang yang berhaji melewatkan prosesi tersebut, maka hajinya di tahun itu tak sah dan harus diulangi pada tahun berikutnya. Hal itu oleh Ibnu Rusyd dinyatakan dalam Bidayat al-Mujtahid wa Nihayatu al-Muqtashid. Selain rukun haji, jika terlewat masih bisa diperbaiki dengan membayar ganti rugi berupa dam.

Sekalipun wukuf di Arafah menjadi prosesi puncak dan pokok dari haji, bukan berarti rukun haji yang lain tidak penting atau tidak perlu dilaksanakan. Hadis itu menjadi isyarat akan skala pentingnya wukuf sekaligus peringatan apabila prosesi itu tak dilakukan. Kaidah hashru al-mubtada’ ‘ala al-khabar (pembatasan mubtada’ pada khabar) tidak berlaku untuk memahami hadis tersebut. Artinya, tidak bisa membatasi haji hanya pada wukuf saja. Sebagaimana maklum, rukun haji yang harus dikerjakan tidak terbatas pada wukuf saja.

Ringkasnya, haji merupakan rangkaian dari beragam prosesi, mulai dari ihram, wukuf, tawaf, sa’i, dan sebagainya. Kesemuanya harus ditunaikan. Tanpa salah satu dari ritus tersebut, tidaklah sempurna haji seseorang. Sedangkan wukuf di Arafah, menjadi agenda pokok dengan kedudukan khusus, mengacu dari sabda Rasulullah SAW tersebut dan melihat dari implikasi hukum ketika ritus tersebut dilewatkan.

Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa napak tilas di padang Arafah menjadi amat penting hingga Nabi bersabda demikian? Bisa dibilang, Arafah ialah sebuah perlambang awal penciptaan manusia, pengetahuan, dan peradabannya. Arafah berbicara tentang manusia, tokoh utama dalam pagelaran kehidupan ini.

Dikisahkan, setelah diturunkan ke bumi karena pelanggaraan yang dilakukan, Nabi Adam bertemu dengan Hawa di tanah Arafah. Kini kita mengenal tempat perjumpaan mereka dengan sebutan Jabal Rahmah, bukit kasih sayang. Setelah kemabli bertemu, gelombang kasih di antara Adam dan Hawa mendorong adanya sikap saling memahami di antara mereka. Interaksi keduanya di muka bumi ini menjadi isyarat pengetahuan dan peradaban yang pertama. Sejarah manusia diawali dengan pengetahuan.

Dinamika peradaban dan godaan duniawi telah sejak lama membuat jarak antara manusia dengan kesadaran asasinya. Oleh karena itu melalui Arafah, nampaknya Allah ingin agar manusia benar-benar mengenal dan kembali sadar siapa dirinya serta tahu betul apa tujuan penciptaannya.

Di padang Arafah para peziarah diagendakan untuk berdiam, meninggalkan sejenak aktivitas duniawi, merenungkan diri di tempat leluhur umat manusia menautkan kembali kasih sayangnya. Kita dianjurkan untuk memohon ampunan, mengakui kelemah diri, memperbanyak ingatan akan kuasa  Tuhan. Dari Arafah manusia diharapkan memperoleh wawasan, kesadaran, pengetahuan, dan cinta.

Masih di Arafah. Tugas-tugas umat manusia kembali dipertegas oleh Rasulullah SAW melalui manifesto kemanusiaan yang beliau sampaikan ketika haji wada’. Sembari duduk di atas untanya, beliau menerangkan tentang larangan menumpahkan darah sesama manusia, perintah untuk menjaga persaudaraan, peringatan untuk tidak mencurangi harta orang lain, penghormatan terhadap perempuan, serta amanat untuk meneguhi al-Quran sebagai pegangan hidup.

Dalam khutbah tersebut Rasulullah SAW menerangkan aturan-aturan pokok dalam kehidupan. Itu adalah haji pertama sekaligus terakhir Nabi SAW. Sinyal perpisahan begitu terasa. Pidato tersebut menjadi semacam wasiat yang berarti harus kita tunaikan selaku manusia dan umat Nabi Muhammad SAW.

Utusan pertama dan terakhir Allah, Nabi Adam serta Rasulullah, menyampaikan petuah hidup di Arafah. Haji sendiri merupakan simbol evolusi eksistensial manusia menuju-Nya. Dan Arafah menjadi ikhtisar dari penciptaan, tugas, serta rangkaian sejarah umat manusia. Itulah mengapa wukuf di Arafah menjadi ponopang dan amalan paling berharga dalam haji. Prosesi ini mengajak manusia untuk mengunjungi taman kesadarannya sebagai seorang hamba dan manusia yang utuh.

Dalam praktiknya, haji adalah kesatuan gerak dan ritual. Hadis Nabi di atas bukan berarti mencukupkan manasik haji hanya pada ritual wukuf. Rukun dan wajib haji yang lain pun harus ditunaikan. Hanya saja wukuf di Arafah memang bernilai khusus. Praktik ini menyimpan rahasia utama manusia dan makna yang mendalam, sehingga ia menjadi jantung dari ibadah haji, sebagaimana yang disabdakan Nabi. Wallahu a’lam. []  

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…