Kolom

Duka Sigi, Duka Indonesia

2 Mins read
Duka Sigi, Duka Indonesia teroris

Sebanyak empat orang dalam satu keluarga di Desa Lembantongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah tewas dibunuh, pada Jumat (27/11/2020). Selain pembunuhan, juga terjadi pembakaran rumah ibadah dan rumah warga. Pelakunya diduga dari jaringan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Kejadian ini tentunya sangat mengagetkan semua pihak, dan mengakibatkan ketakutan bagi seluruh masyarakat.

Saya pribadi turut berduka yang sangat mendalam, dan dengan tulus mendoakan semoga korban pembunuhan tersebut mendapatkan cinta dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Pengasih. Kejadian ini merupakan peringatan bagi kita bahwa betapa kejinya perilaku teror. Seseorang yang memiliki nurani kemanusiaan, mana mungkin tega melakukan hal demikian. Oleh sebab itu, tidak boleh ada pembenaran sedikit pun untuk semua aksi terorisme. Kita semua berharap negara hadir dan memberi rasa aman kepada seluruh rakyat Indonesia.

Kepada institusi kepolisian, saya mendesak agar polisi segera menangkap para pelaku dan menghancurkan jaringan terorisme sampai ke akarnya. Polri perlu lebih meningkatkan kualitas kerja dan profesionalitasnya agar gerakan terorisme di negeri ini mampu dilumpuhkan.

Teroris merupakan musuh bersama kemanusiaan, karena tindakan mereka telah membuat orang lain merasa tidak aman, tidak nyaman, dan selalu diselimuti rasa ketakutan. Kejahatan yang mengancam hak asas manusia ini menuai berbagai kecaman di kalangan masyarakat Indonesia maupun dunia. Tak ada satupun yang menghendaki aksi teror seperti itu melanda Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pasalnya, telah melukai keberagaman dan kedamaian di negeri ini.

Kita butuh langkah strategis untuk menangkal dan membendung terorisme. Terorisme tidak hanya di atasi ketika sudah terjadi aksi teror. Namun, bagaimana mencegah sebelum aksi-aksi tersebut terjadi di lapangan. Mencegah agar aksi-aksi tersebut tidak sampai terjadi, dan bahkan harus dibasmi sampai keakar-akarnya.

Pancasila sebagai pilar bangsa Indonesia, sejatinya harus mampu dipahami oleh seluruh bangsa Indonesia. Sebagai ideologi, Pancasila diharapkan mampu menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk mengenai terorisme. Pancasila adalah petunjuk, pandangan hidup dalam bertindak dan berperilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Permasalahannya, para pelaku teroris sejatinya tidak mampu memahami nilai-nilai Pancasila secara komprehensif, atau bahkan telah melupakan nilai-nilai luhur tersebut. Pancasila adalah penyelamat dan pemersatu bangsa ini. Bung karno secara tegas mengatakan, “Apabila bangsa Indonesia ini melupakan Pancasila, tidak melaksanakan bahkan mengamalkannya, maka bangsa ini akan hancur berkeping-keping”. Oleh karena itu, kita wajib mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Aksi-aksi teror yang semakin nyata di depan mata, tentunya menjadi persoalan yang sangat serius. Oleh sebab itu, sangat penting untuk memahami nilai-nilai Pancasila, kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Pancasila telah menjadi karakter dan etika sosial, maka secara otomatis ideologi teroris dapat tereliminir dengan sendirinnya. Pasalnya, nilai-nilai Pancasila adalah tameng untuk menangkis ideologi radikal, dan Pancasila juga merupakan kristalisasi dari kearifan lokal dan budaya bangsa yang tidak berseberangan dengan agama.

Selain itu, mulai detik ini jangan biarkan sikap intoleran, ujaran kebencian dan permusuhan menghiasi media sosial kita. jangan biarkan para guru, mengotori hati dan pikiran anak-anak dengan sikap intoleran, ajaran kebencian, dan permusuhan. Jangan biarkan para pemuka agama menyampaikan dakwah agama yang mengandung konten menakutkan, seperti mengatakan akan memenggal kepala, juga sikap menyalahkan orang lain yang berbeda pandangan. Jangan biarkan institusi publik, seperti rumah ibadah, kantor negara, dan tempat-tempat lainnya dicemari dengan ajakan untuk menghapus demokrasi dan ideologi Pancasila.

Maka dari itu, jangan lagi diam ketika melihat tindakan teror. Mari bersama mendesak pemerintah untuk mengatasi ketidakadilan sosial yang menjadi narasi para teroris. Berteriaklah jika agama, negara, dan bangsa ini diinjak-injak oleh mereka yang tidak memiliki nurani kemanusiaan. Dengan demikian, sekali lagi saya sampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya, karena duka Sigi merupakan duka seluruh warga negara Indonesia.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…
Kolom

Penggiat Khilafah Adalah Penghancur Bangsa

Pasca-pembubaran HTI pada Tahun 2017 lalu, penggiat khilafah masih getol mengampanyekan sistem politik khilafahnya. Fakta itu bisa kita perhatikan ketika melihat hashtag…
Kolom

Kampanye Basi Pengusung Khilafah

Walaupun sudah dibubarkan pemerintah, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya belumlah berakhir. Pasalnya penyebaran ideologi dan penyebaran paham sistem khilafah kian terang-terang dengan menggunakan media sosial sebagai motor penggerak.