Kolom

Kebohongan-kebohongan MRS

5 Mins read
Kebohongan-kebohongan MRS Dreamers

Suaranya keras, lantang, dan nyaring. Kata-kata tersusun dalam sebuah ceramah bersifat paradoksal. Suatu hari ia mengatakan dalam ceramahnya, “Kalau besok anak-anaknya berjuang bela Islam setuju atau tidak bu? Ridho tidak? Besok kalau anaknya datang ke Ibu, ‘bu permisi mau jihad, lu jihad ama siapa tong? Mau jihad ama habaib ama ulama jangan dilarang bu ya, ibu langsung angkat tangan sono pergi tong mudah-mudahan gak balik lagi.’ Amin.”

Ia melanjutkan, “Ibu punya anak mati syahid, orang yang mati syahid di jalan Allah, dia bakal berdiri di pintu surga, untuk apa? Untuk mengajak 70 anggota keluarganya masuk surga. Jadi takut tidak mati syahid? Mau tidak mati syahid? Takbir!” Sontak banyak jemaahnya menyahut Allahu Akbar. Dengan gaya pidato khas Betawi yang pandai mendoktrin pengikutnya, Muhammad Rizieq Shihab (MRS) mencuci akal ibu-ibu yang mendengarkan ceramahnya agar anaknya menjadi martir bagi dirinya. Hal itu adalah sebuah bentuk fabrikasi.

Berbagai ceramah kebohongan dan penyesatan demikian sepertinya terus meningkat, seiring meningkatnya populisme Islam dan sensitivitas masyarakat terhadap pemahaman dan praktik keberagamaan tertentu. Sikap sensitif sebagian umat Islam yang digoreng melalui pengkhotbah agama yang menyesatkan dan menimbulkan keresahan. Yang menjadi target sasaran tidak hanya umat beragama lain, melainkan internal Islam sendiri, baik perbedaan mazhab, maupun pandangan politik.

Semenjak berdirinya Front Pembela Islam (FPI), organisasi ini kerap melakukan aksi anarkistis yang berbenturan dengan negara. Kita semua telah memahami bahwa organisasi yang dipimpin oleh MRS seringkali menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat yang plural. Kebohongan-kebohongan yang dilontarkan sebagaimana di atas, telah mengaduk-aduk emosional jemaatnya untuk terus bertindak ekstrem. Dakwah kekerasan di negeri damai, hanya membuat pemecahbelahan yang sangat dilarang agama.

Klaim-klaim kebenaran dengan menghakimi orang lain, tidak akan mendapatkan kebahagiaan dan hanya celaka yang didapatkan di akhirat kelak. Orang bijak mengatakan, “Perbuatan dosa yang membuatmu menyesal, jauh lebih baik ketimbang beribadah yang disertai rasa ujub dan takabur.” Mati syahid tidak harus pergi berperang, apalagi di suasana damai, tidak ada istilah jihad yang berujung mati syahid.

Mengapa MRS kemudian mendorong anak-anak muda mati syahid demi dirinya? Mengapa tidak disuruh menuntut ilmu, atau pergi mencari nafkah? Dalam keadaan tersebut, tentu saja lebih mati syahid jika ajal menjemputnya. Justru membela Islam dengan cara-cara mungkar seperti MRS dan pengikutnya, tidak akan mendapat apa-apa di sisi Allah.

MRS saja tidak menggunakan etika dakwah yang benar. Tugas seorang ulama dan mubaligh atau da’i itu mengajak, bukan mengejek, menyampaikan bukan mengislamkan, merangkul bukan memukul, menata bukan memecah belah. Apalagi menjanjikan kenikmatan ukhrawwi di surga dan mengajak 70 anggota keluarga. Mengapa saya katakan MRS berbohong? Sebab apa yang dilakukannya justru sebaliknya.

Islam membela yang lemah, bukan menindasnya. Siapa? Siapa lagi kalau bukan kelompok minoritas—Syiah, Jemaat Ahmadiyah, dan lainnya—yang tentu saja kelompok kecil di negeri ini. Belum lagi rentetan insiden benturan antara FPI dengan kelompok yang berbeda keyakinan dan aksi-aksi anarki yang dilakukan terhadap warga sipil lainnya.

Pada akhirnya, semua bertentangan dengan Islam. Front Pembela Islam secara substantif, jadi perusak Islam, sebab Islam tidak pernah mengajarkan arogansi, menyerbu, merusak, menghancurkan tempat-tempat publik, bahkan tidak segan-segan mereka memukul menggunakan tongkat rotan. Ironis, semua itu dilakukan atas nama agama dengan kemasan jihad dan syahid. Saya jadi teringat kebohongan MRS saat dirinya terjerat kasus chat-sex dengan Ketua Yayasan Solidaritas Cendana, Firza Husein, agar lolos dari pemeriksaan polisi dan meraih simpati publik.

Beberapa kebohongan itu diantaranya ia merasa menjadi target pembunuhan, adanya sniper yang menembak rumahnya, revolusi putih, beralasan untuk pergi ke Malaysia untuk menyelesaikan studinya, dan visa yang didapatkan ketika berada di Arab Saudi adalah unlimited, atau mendapat keistimewaan oleh Kerajaan Arab Saudi. Tapi kemudian ia overstay dan dideportasi berdasarkan keterangan Prof. Mahfud MD. Setelah itu melakukan kebohongan lagi dengan membantah bahwa dirinya tidak overstay dan tidak dideportasi.

Gemar sekali rupanya MRS menggunakan kebohongan demi kebohongan hanya untuk meraih simpati publik, gemar menggunakan model kekerasan untuk mendesak kehendaknya. Vonis radikal—sesat, kafir, munafik dan seterusnya—terhadap perorangan, atau pun kelompok lain, seringkali terlontar dari mulut MRS. Dalam salah satu ceramahnya, MRS mengatakan, “Presidennya goblok, Menteri agamanya sesat.” Seolah-olah ia saja yang benar, dan ini bentuk kebohongan. Mengapa demikian?

Orang bodoh, tidak mungkin menjadi presiden. Sebaliknya, ia mencaci-maki telah dikelabuhi hawa nafsu yang tengah menjangkit dirinya sendiri. Tuduhan sesat kepada Menteri Agama, ia sudah melampaui hak prerogatif Tuhan, sebab tidak ada simbol seseorang sesat atau tidak, kafir atau bukan, masuk surga atau tidak.

Kebohongan-kebohongan yang digandrungi oleh sebagian masyarakat pecinta MRS ini adalah sebuah fitnah, kebohongan yang terus digelorakan sehingga menganggap semua pernyataannya menjadi sebuah kebenaran. MRS terus mengocok emosional masyarakat untuk bertindak anarki dengan buntelan jihad untuk sesuatu yang absurd.

Semenjak kepulangan MRS dari Arab Saudi, kegaduhan terjadi di mana-mana. Selang dua-tiga hari saja, peringatan Maulid Nabi SAW di era pandemi Covid-19 yang sedang mengganas, ia bersama komunitasnya menggelar peringatan, dan pernikahan putrinya. Betul kaum Muslim semua sepakat bahwa mencintai Rasulullah SAW dan bershalawat adalah sesuatu hal yang fundamental dalam Islam. Namun, tidak sepalayaknya berkerumun seperti tidak menghargai semua yang tengah berjuang dalam menghadapi virus mematikan ini.

Apalagi ceramahnya yang dikemas untuk mencaci, memaki, menghinakan perempuan, mendo’akan buruk bagi orang lain, tidak sepatutnya keluar dari mulut pemuka agama yang katanya keturunan Nabi. Sungguh tidaklah pantas seorang habib berbicara kata-kata kotor, apalagi sampai membenarkan pemenggalan.

Seharusnya Maulid Nabi diisi oleh kisah-kisah kelahiran Nabi yang dinantikan, kekuatan moral serta spiritual pribadi Nabi, sisi-sisi mukjizat dan sunah beliau yang membangkitkan rasa cinta umat kepada baginda Nabi. Bukan mengotorinya dengan kata-kata tidak pantas. Bagaimana jika sang anak yang pulang dari Maulid Nabi ditanya orang tuanya, “Ceramah habib apa isinya nak? Ibu mau dengar dong!” Jawab si anak, “Takbir! Penggal wanita jalang itu.” Naudzubillah.

Sebagai umat Islam, kita harus jujur, bahwa sebagian penceramah kita banyak melakukan kebohongan-kebohongan yang berujung pada radikalisme mengatasnamakan agama. Aksi-aksi terorisme, diyakini oleh pelaku dan kelompoknya sebagai kebenaran, akibat ceramah-ceramah kebohongan dan tipu muslihat dari pemuka agamanya.

MRS telah mendistorsi Islam dalam kelompoknya. Islam yang seharusnya menjunjung tinggi perdamaian dan kemanusiaan, ia putarbalikkan menjadi ajaran kemarahan, kengerian, dan kemurkaan. Meminjam istilah Oliver Roy (1994), disebut “Islam Politik”. Pandangan Roy tersebut sesuai dengan pergerakan FPI selama ini yang meyakini Islam sebagai ideologi politik dan pemberlakuan syariat Islam.

Adapun Muhammad Abid Al-Jabiri lebih memilih menggunakan istilah “ekstremisme Islam”, karena menurutnya kelompok ini ditengarai selalu bermusuhan dan berlawanan dengan gerakan Islam “moderat” atau Islam “tengah” dan wasathiyyah al-Islam. (Abdul Jamil Wahab, 2019: 23). Bagaimana tidak, beberapa insiden kekerasan yang melibatkan FPI begitu nyata terlihat dipertontonkan, acap kali semangat toleransi di tengah masyarakat sedang dalam tumbuh baik.

Bahkan baru-baru ini, Laskar FPI DKI terlibat penyerangan mobil polisi di jalan tol Jakarta-Cikampek KM 50, pada Senin, (07/12/2020). Dampak dari ceramah kebohongan MRS yang dibalut dengan kata jihad, 6 orang Laskar FPI kehilangan nyawa akibat prosedur tetap (protap) kepolisian dalam menghadapi bahaya dan ancaman keselamatan jiwa. Mereka yang berusaha mengganggu stabilitas lokal, nasional, maupun global, memang sudah sepatutnya dicegah agar keamanan dan keselamatan bangsa tetap terjaga. Kematiannya pun sama sekali tidak syahid, berdasarkan pemaparan-pemaparan destruktif di atas.

Peristiwa yang menewaskan 6 orang anggota Laskar FPI DKI itu, semakin mengonfirmasi bahwa dukungan MRS terhadap ISIS dan keterlibatan Munarman dalam baiat ISIS beberapa tahun silam, menjadikan FPI masuk dalam kategori organisasi teroris. Ceramah Gus Dur yang menyebut MRS sebagai teroris lokal dan diamini pula olehnya, menjadi semakin yakin bahwa FPI memang organisasi teroris. Teroris memang memiliki ciri-ciri yang salah satunya menjadikan tentaranya berjihad dan mengorbankan nyawa, dengan iming-iming surgawi. Kebohongan itu pula yang dilakukan oleh MRS.

Perlu adanya tindakan lebih tegas lagi dari pemerintah untuk MRS dan pengikutnya. Semua Langkah komprehensif dan keterlibatan semua pihak, juga dibutuhkan dalam rangka memotong semua variable radikalisme dan kebohongan bermantel agama itu. Kita perlu kritis terhadap pemerintah dalam hal lain yang bernuansa konstruktif, tapi mendukung segala upaya pemberantasan aksi-aksi anarkisme dan terorisme yang merusak sebagai dampak dari kebohongan-kebohongan yang tidak pantas keluar dari mulut seorang pemuka agama macam MRS.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…
Kolom

Penggiat Khilafah Adalah Penghancur Bangsa

Pasca-pembubaran HTI pada Tahun 2017 lalu, penggiat khilafah masih getol mengampanyekan sistem politik khilafahnya. Fakta itu bisa kita perhatikan ketika melihat hashtag…
Kolom

Kampanye Basi Pengusung Khilafah

Walaupun sudah dibubarkan pemerintah, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya belumlah berakhir. Pasalnya penyebaran ideologi dan penyebaran paham sistem khilafah kian terang-terang dengan menggunakan media sosial sebagai motor penggerak.