BeritaKolom

Mengukuhkan Solidaritas di Tengah Bencana

3 Mins read
Mengukuhkan Solidaritas di Tengah Bencana solid

Tanah Air tengah dirundung duka akibat hantaman bencana yang datang silih berganti. Penanganan wabah virus Covid-19 belum tuntas, kini berlanjut dengan bencana alam gempa bumi, banjir, gunung meletus, longsor, hingga jatuhnya pesawat SJ-182 terjadi pada Januari 2021. Ini ujian besar bagi bangsa Indonesia. Selain ikhtiar untuk mencegah terjadinya munculnya bencana susulan, upaya mencari solusi dari keterpurukan juga lebih penting satu di antaranya, yakni mengukuhkan solidaritas kemanusiaan di tengah bencana. Demikian bangsa ini menjadi kuat, karena solidaritas tinggi yang saling bahu-membahu.

Melalui akun Twitter resminya, infografis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 212 banyaknya bencana yang terjadi di Indonesia sejak 1 hingga 25 Januari 2021. Namun, jika dibandingkan dengan tahun 2020, maka peristiwa bencananya lebih banyak, yaitu BNPB mencatat sebanyak 297, hanya saja korbannya lebih sedikit dengan jumlah 91 jiwa. Ketimbang tahun 2021, bencana alam sekarang tercatat menelan hingga 172 korban jiwa.

Tentu angka ini bukan suatu prestasi yang mengagumkan, melainkan petaka bagi bumi pertiwi. Selain sebagai autoktirik dan menelusuri kausalitas peristiwa alam, sibuk menuduh dan saling menyalahkan siapa penyebab bencana tidak menjadikan bencana tersebut menemukan titik penyelesaian. Karena itu, kesadaran pertama yang dibangun tidak lain adalah tentang kemanusiaan. Para korban bencana sekarang ini sangat membutuhkan bantuan, baik dukungan secara materil maupun moril.

Itu sebabnya, loyalitas kita sebagai bangsa berideologi Pancasila tengah ditangguhkan kepada mereka yang terdampak bencana. Hal ini juga menjadi kritik terhadap publik figur yang kerap memamerkan jet pribadinya untuk bermewahan agar turut berpartisipasi. Pasalnya, wilayah terdampak bencana tak jarang yang jauh lokasinya dari jangkauan wilayah ibu kota, hingga pasokan bantuan untuk korban banyak yang tersendat di jalur darat.

Dalam situasi bencana mengukuhkan solidaritas sosial di tengah bencana sangat diperlukan sebagai refleksi dari kesadaran untuk membangun daya tahan penghidupan. Semangat ini menjadi sebuah keniscayaan di tengah situasi bencana. Tanpa harus menunggu bantuan pemerintah, secara kemanusiaan masyarakat saling bahu memberdayakan diri untuk membantu saudara yang kesulitan. Sebab penanggulangan bencana adalah tanggung jawab yang melibatkan banyak pihak, baik pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat turut berperan dengan kadar kemampuan masing-masing.

Berdasarkan infografis Twitter BNPB (26/1) menunjukkan bantuan sosial dari berbagai wilayah kini sudah berdatangan. Tercatat bencana di setiap provinsi didatangi relawan 100 lebih organisasi dan dua ribuan personil telah bergabung. Meski dalam situasi yang tak baik, sejenak persoalan intoleransi lenyap melihat banyaknya para relawan yang tak memandang agama, ras, suku, dan budaya yang ikut andil membantu saudara yang kesulitan tanpa pamrih. Ini menjadi momen penuh haru untuk dikenang bersama.  

Menurut Emile Durkheim, dikutip dari buku Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern (1994), yang sering disebut bapak sosiolog, menjelaskan solidaritas sosial, mengafirmasikan solidaritas sosial berparadigma fakta sosial. Baginya, solidaritas sosial menjadi bagian suatu gejala moral, yang terlihat ketika kondisi individu dan kelompok memiliki keadaan moral dan kepercayaan yang sama yang diperkuat secara pengalaman emosional. Jiwa emosional bencana inilah, yang menjadi unsur relasi kondisi bangsa Indonesia turut merasakan kesamaan taraf pilihan kehidupan.

Terjadinya bencana alam bukan hanya berimplikasi pada fisik, melainkan psikis penduduk yang terdampak juga turut terguncang. Kekhawatiran menyebabkan jiwa mereka tidak stabil dan lebih sensitif. Kepanikan ini bukan tanpa sebab, selain imajinasi yang masih terperangkap katastrofe dan kerusakan materi. Di lain sisi, membangun masa depan setelah insiden suram terlihat kian sulit, karena kemungkinan mereka pemburu nafkah akan kehilangan lahan pekerjaan, peserta didik kehilangan ruang untuk belajar dan skeptisisme lainnya. Asa yang ingin diraih, serasa kian jauh untuk digapai.

Demikian, guncangan kesehatan mental psikologis juga mesti ditangani secara khusus oleh psikolog. Dalam Jurnal Zurriyatun Thoyiba dkk, (2019) disebutkan gangguan mental akibat bencana dapat memicu masalah ansietas (kecemasan), stress (tekanan), depresi (kemurungan), dan trauma. Hal ini juga dikuatkan berdasarkan hasil surveinya, yakni pasca-bencana 15-20 persen populasi akan mengalami gangguan mental akibat bencana ringan atau sedang jika merujuk pada kondisi posttraumatic stress disorder (PTSD). Sedangkan 3-4 persen korban akan mengalami gangguan berat, seperti psikosis, depresi berat, dan kecemasan tinggi.

Sebenarnya, gangguan kesehatan mental psikologis lebih mengkhawatirkan, ketimbang kerusakan materil. Sebab trauma atau depresi merupakan efek jangka panjang yang tak bisa pulih dengan cepat. Anak-anak rentan mengalami hal ini. Karena itu, anak-anak mesti mendapat perhatian lebih agar ia tidak mengalami depresi ataupun trauma. Terlebih, mereka yang ditinggal oleh sanak keluarganya yang menjadi korban bencana. Terkait persoalan tersebut, maka peran psikolog di sini harus dilibatkan, untuk memastikan semangat dan keceriaan mereka tetap terlihat. Pengalaman emosional korban bencana secara bertahap harus dikikis, hingga ingatan itu tidak mengganggu dikemudian hari.

Demikian bencana mengingatkan kita akan banyak hal, seperti kematian, introspeksi diri, berupaya menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan terakhir ikhlas merupakan cara untuk menekan timbulnya depresi atau trauma. Sikap optimis itu perlu agar seseorang bisa bangkit dari keterpurukan. Tanpa keikhlasan, manusia akan sulit menemukan hikmah dari setiap musibah yang menimpanya. Pada akhirnya, hikmah yang tak terelakkan, bahwa bencana telah mengukuhkan solidaritas kolektif kita sebagai bangsa yang menghendaki kebersamaan dalam menghadapi setiap tantangan yang menguji keutuhan Tanah Air.

Related posts
Berita

Zuhairi Misrawi Akan Lindungi WNI di Arab Saudi

Santer terdengar pada akhir-akhir ini, bahwa KH Zuhairi Misrawi atau yang lebih akrab dikenal dengan panggilan Gus Mis, mendapatkan tugas baru dari Presiden Jokowi Dodo, yaitu menjadi Duta Besar (Dubes) di Negara Timur Tengah yaitu Arab Saudi. Tentunya, tugas menjadi wakil negara di kota haramain tersebut tidaklah mudah, memerlukan ekstra kerja keras dan juga perhatian khusus terlebih kepada diaspora Indonesia.
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…