Kolom

Merawat Kebudayaan ala Bung Karno

2 Mins read
Merawat Kebudayaan ala Bung Karno Images 2

Budaya dalam suatu bangsa ibarat urat nadi. Bangsa tidak akan hidup tanpa ada budaya yang melekat di dalamnya. Karena itu, tidak mengherankan jika Bung Karno selalu menekankan bahwa kita harus menjaga dan melestarikan budaya-budaya bangsa. Indonesia merupakan Negara dengan suku terbanyak di dunia. Tidak tanggung-tanggung, terdapat lebih dari 740 suku yang tersebar dari sabang sampai Merauke. Dari 740 suku itu, tentu memiliki kebudayaan dan adat daerah masing-masing.

Dikisahkan, dalam satu kesempatan wawancara Bung Karno dengan wartawan Manila Times, ia mengatakan, “saya tidak mempunyai hobi selain mengumpulkan karya-karya seni”. Bung Karno masyhur dengan kecintaannya terhadap budaya bangsanya sendiri. Ia sangat mencintai dan memberikan perhatian khusus dalam menjaga peninggalan-peninggalan budaya serta karya seni leluhur. Baginya budaya dan karya seni peninggalan leluhur merupakan bagian identitas dan kekayaan bangsa. Yang tentu dengan cara apapun harus dapat dipertahankan dan dijaga.

Budaya dalam pandangan Bung Karno bukan hanya sekadar peninggalan belaka, tetapi lebih dari itu. Budaya merupakan bagian penting, sebagai ikon serta karakteristik bangsa, yang kemudian menjadi pembeda antara bangsa kita dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Perhatian Bung Karno terhadap budaya tidak kalah besar, ketimbang perhatiannya terhadap ekonomi, politik, dan kehidupan sosial bangsa. Keteguhan Bung Karno dalam merawat budaya sebagai identitas bangsa demikian, yang mestinya dapat menjadi teladan para penerus bangsa. Apalagi, di tengah arus globalisasi sekarang, di mana gelombang budaya asing dengan mudah dapat masuk ke dalam negeri.

Dalam konteks hari ini misalnya, kita ketahui bersama banyak kalangan muda-mudi lebih mengagumi budaya luar, seperti K-pop dan drama Korea. Ketimbang mengagumi musik lokal, seperti dangdut, keroncong, tarling, dan lain sebagainya. Yang jelas-jelas menggambarkan identitas daripada bangsa kita sendiri. Bukan tanpa keresahan, persoalannya, jika budaya yang merupakan identitas bangsa mulai terlupakan, lantas mau dibawa kemana masa depan bangsa? Padahal, adanya nasionalisme tetap lestari yaitu dengan mencintai budaya sendiri, salah satunya.

Jauh-jauh hari, Bung Karno telah mengingatkan dan mengajarkan agar para penerus bangsa memiliki rasa kecintaan dalam melestarikan budaya bangsa. Bung Karno dalam Bung Karno dan Revolusi Mental (2017) karya Sigit Aris Prasetyo mengatakan, “cintailah kebudayaan nasional kita sendiri”. Sebab, hanya dengan cara seperti ini, Indonesia memiliki jati diri. Bahkan, Bung Karno telah mengingatkan, jika penjajahan model baru tidak hanya berbentuk penguasaan ekonomi dan politik, tetapi juga budaya. Dan ketiganya sama-sama dalam kategori membahayakan.

Cara pandangnya dalam menafsirkan budaya ke dalam konteks kebangsaan, suatu hal yang wajar jika ia menuntut kita untuk tetap menjaganya. Kecintaan Bung Karno kepada bangsa tidak hanya sebatas teritorial negara, tetapi juga seisi di dalamnya. Bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi juga untuk dikembangkan. Hal ini, tentu tidak terlepas dari kebudayaan bangsa yang begitu melimpah ruah. Bung Karno sangat menyukai karya-karya seni anak bangsa, seperti lukisan dan wayang kulit. Karena itu, tidak mengherankan jika dalam kepemimpinannya, ia sering mengadakan pagelaran wayang kulit. Bahkan, wayang kulit sering menjadi pertunjukan-pertunjukan resmi pertemuannya dengan tamu-tamu kenegaraan.

Mengutip Marcus Garvey (1887-1940), ia mengatakan, a people without the knowledge of their past history, origin, and cultur is like tree without roots. Dari pernyataan ini, Marcus ingin menjelaskan, bahwa begitu pentingnya budaya dalam pembentukan dan perkembangan suatu bangsa. Sebab, budaya merupakan simbol peradaban. Tanpa budaya, berarti suatu bangsa tidak memiliki dasar dan pondasi, yang akibatnya putra-putri bangsa akan terombang-ambing di atasnya tanpa kepastian dan arah yang jelas. Bung Karno sudah mengajarkan kita untuk selalu menjaga kebudayaan. Ia sudah menjadi teladan yang baik, saatnya kita meneruskan.

Related posts
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…