Nasihat

Hati-Hati Overdosis Haji

2 Mins read
Hati-Hati Overdosis Haji Kaaba Saudi Arabia coronavirus 070320 AP e1613732441430

Kebanyakan kaum Muslim yang telah menunaikan ibadah Haji menginginkan haji yang kedua, ketiga, atau kesekian kalinya. Sedikit sekali masyarakat Muslim berkata, pergi haji cukup sekali, seperti apa yang dilakukan Nabi SAW pada tahun 10 Hijriyah. Tak ayal, fenomena overdosis haji ini mendorong timbulnya penyakit hati. Bahkan, menepikan sikap solidaritas sosial terhadap fakir miskin dan orang-orang yang lemah.

Setelah peristiwa fathu Makkah (hari pembebasan Makkah dari genggaman aristokrat Quraisy) pada tahun 8 H atau 630 M, Rasullah SAW hanya melaksanakan ritual haji sekali dan umrah sebanyak 4 kali. Salah satu umrahnya pun dilakukan berbarengan dengan haji. Padahal, sepanjang kurun waktu antara 8-11 H, Rasulullah memiliki kesempatan untuk melaksanakan haji lebih dari satu. Pertanyaannya, mengapa Rasulullah hanya menunaikan haji sekali seumur hidup?

Dari sini dapat kita pahami, bahwa dosis haji sejatinya hanya sekali. Ibadah yang menuntut kemampuan fisik, mental, dan finansial sekaligus ini tidak dianjurkan untuk dilakukan lebih dari satu kali. Sebab hanya ada dua alasan mengapa orang-orang ingin melakukan haji lebih dari sekali. Pertama, karena masyarakat Muslim ingin mendekatkan diri kepada Allah (semangat beribadah yang tinggi). Kedua, karena haji yang berkali-kali dilakukan akan menaikkan status sosialnya di kalangan masyarakat. Dengan kata lain, disegani dan dihormati banyak orang.

Jika yang dituju adalah alasan pertama, maka seharusnya kaum Muslim terlebih dahulu memahami kaidah fiqh al-muta’addiyah afdhal min al-qashirah, ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual. Ibadah sosial antara lain, memberi makan anak yatim, zakat, menolong fakir miskin, serta membantu orang-orang yang lemah dan menderita. Sementara ibadah individual mencakup shalat, puasa, umrah, dan haji.

Dari kaidah fiqh di atas kita belajar, bahwa ibadah individu, khususnya haji, yang kelebihan dosis itu tidak baik. Kita juga dituntut untuk peduli dan mengulurkan tangan kepada orang-orang di sekitar kita agar tercipta kehidupan yang seimbang di kalangan masyarakat. Kita seharusnya cermat dan bijak dalam menghadapi ibadah sarat promosi ini. Tidak dengan mudah terbuai dengan slogan ‘haji bersama artis atau dai terkenal’ atau ‘umrah plus wisata ke sejumlah negara Islam’. Padahal, sudah menunaikan haji belasan atau puluhan kali.

Ibadah individu memang membuahkan manfaat bagi para pelakunya, tetapi manfaat dari ibadah sosial lebih dahsyat, karena tidak hanya diterima oleh pelakunya, tetapi juga orang lain. Kaidah fiqh tersebut sejatinya mengingatkan masyarakat Muslim yang sedang demam ibadah individual untuk tidak lupa dengan ibadah sosial yang faktanya lebih utama.

Hal ini sejalan dengan hadis qudsiy (menurut Sebagian ulama merupakan hadis yang maknanya bersumber dari Allah dan lafadznya dari Rasulullah SAW) yang berbunyi, Allah SWT dapat ditemui di sisi orang yang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita [HR Muslim].

Hadis di atas membuktikan, bahwa Allah dekat dengan orang-orang yang lemah dan menderita. Tidak ada sumber yang menyatakan, Allah dapat ditemui di sekitar Ka’bah. Ibadah sosial jelas lebih unggul dari ibadah individual. Secara kontekstual dapat dikatakan, Allah dekat dengan orang-orang yang ringan tangan. Mengulurkan tangan untuk orang lain dan tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Maka dari itu, jika ingin mendekatkan diri kepada Allah, maka perbanyaklah ibadah sosial, bukan ibadah individual seperti haji yang kelebihan dosis.

Sedangkan, jika alasan overdosis haji adalah demi menaikkan status sosialnya di mata masyarakat, maka fenomena inilah yang kerap disebut oleh al-magfurlahu KH Ali Mustafa sebagai ‘haji pengabdi setan’. Mengapa pengabdi setan? Sebab mereka menuruti hawa nafsunya agar dipandang baik dan luhur oleh masyarakat luas.

Perlu ditekankan, bahwa setan tidak hanya merayu manusia untuk berbuat maksiat, mereka juga menyuruh manusia untuk beribadah. Sebagaimana dikisahkan dalam hadis, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap malam.

Di saat masih banyak warga terlantar di pinggir jalan, menderita kelaparan, dan kehausan. Apalagi di tengah Pandemi yang menurunkan pendapatan atau meningkatkan jumlah pengangguran masyarakat Tanah Air. Masih inginkah kita memenuhi hawa nafsu untuk melaksanakan haji yang kesekian kali daripada membantu orang-orang yang lemah dan menderita?

Maka dari itu, masyarakat Muslim seharusnya berhati-hati dari overdosis (kelebihan dosis) haji yang tidak memberi manfaat, kecuali kepuasan diri. Daripada menuruti hawa nafsu untuk menunaikan haji yang kesekian kali, mulai sekarang, perbanyaklah beribadah sosial. Memberi sedikit materi untuk menolong dan membantu fakir miskin salah satunya.[]

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…
KolomNasihat

Pengendalian Diri di Tengah Pandemi

Sepekaan belakangan ini, media kita dipenuhi dengan berita lonjakan kasus Covid-19, keterbatasan fasilitas kesehatan, dan angka kematian pasien. Kita cukup sepakat bahwa…