Kolom

Berantas Tuntas Radikalisme

2 Mins read
Berantas Tuntas Radikalisme 20171113 baku tembak kelompok sipil bersenjata tewaskan bripda irvan

Nampaknya sulit sekali membasmi paham radikalisme di negeri ini. Setiap pemerintah berhasil membubarkan dan melarang keberadaan organisasi yang berpaham radikal, pasti ada saja individu atau kelompok baru yang memiliki ideologi berbahaya tersebut. Ada pula mereka yang sudah pernah ditindak dan mendapat sanksi hukum, tetapi tak mempunyai rasa jera. Mereka tetap saja berfikir, bahwa paham radikal yang mereka punya adalah ajaran yang paling baik. Maka itu, radikalisme ini harus diberantas tuntas tanpa pandang bulu, sampai ke akar-akarnya.  

Faktor kemunculan radikalisme disebabkan oleh banyak faktor. Berdasarkan buku Berislam Secara Toleran (2011), mengatakan faktor kemunculan radikalisme, karena seseorang hanya memahami pengetahuan agama setengah-setengah melalui proses belajar yang doktriner. Kemudian juga dia menyebutkan, kaum radikal belajar agama hanya memahami secara tekstual saja, sehingga kalangan radikal hanya memahami Islam dari kulitnya saja, tetapi miskin akan wawasan tentang esensi agama. Maka itu, perlu adanya pemahaman dan pembelajaran lebih lanjut mengenai keagamaan agar dikemudian hari tidak ada orang yang salah kaprah atau salah dalam memahami agama.

Biasanya untuk memberontak terhadap negara, kaum radikal memakai alasan ketidakadilan sosial dan gagalnya pemerintah dalam bekerja. Melalui kegagalan pemerintah tersebut, kalangan radikal menuntut dan menawarkan ke masyarakat awam untuk menerapkan ideologi yang dibawanya. Di negeri ini sendiri, peristiwa tersebut sering terjadi. Hal ini kerap dilakukan oleh sejumlah organisasi masyarakat yang telah dibubarkan dan dilarang keberadaannya oleh pemerintah, seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Berdasarkan kejadian yang telah berlalu, mereka ingin menerapkan dan menegakkan aturan yang bersyariat Islam atau sistem khilafah, dalam rangka mematuhi perintah agama dan menegakkan keadilan. Sangat berbahaya sekali, jika situasi seperti itu dibiarkan begitu saja. Untuk itu, sungguh beruntung kita semua, karena pemerintah sudah mengambil tindakan tegas dengan membubarkan kedua organisasi ekstremisme tersebut. Langkah yang dilakukan pemerintah menunjukkan, bahwa negara hadir untuk melindungi warganya dari ancaman tindak kekerasan, provokasi, sweeping sepihak, persekusi dan tindakan-tindakan intoleran yang selama ini dilakukan oleh kelompok intoleran dan radikal.

Menurut Karen Amstrong, radikalisme dapat terjadi pada setiap agama, baik Nasrani, Kristen, Islam, dan lainnya serta tidak menjadi dominasi agama tertentu. Namun, radikalisme juga bisa memiliki latar belakang non-agama. Walakin, saat ini radikalisme banyak terjadi dengan mengatasnamakan agama tertentu.  Radikalisme merupakan gerakan yang berusaha merubah secara total tatanan kenegaraan dengan cara menggulingkan pemerintahan yang sah, karena ketidakpuasan dengan menggunakan jalan kekerasan demi menegakkan ideologi yang dianutnya.

Jika dibiarkan, radikalisme akan mengarah pada tindakan yang lebih berbahaya lagi, yakni terorisme. Ideologi ekstremisme muncul karena kurangnya pemahaman pelaku akan ajaran agamanya masing-masing. Kemudian, adanya sifat fundamentalis setiap orang juga memungkinkan terjadinya tindakan radikalisme dan terorisme. Di samping itu, mereka yang menganut paham radikalisme akan menolak tunduk pada pemerintahan yang sah. Mereka cenderung berusaha keras akan menggulingkannya, karena tujuan kalangan radikal adalah ingin menegakkan ideologi yang mereka anut dengan segala cara.

Oleh karena itu, radikalisme harus diberantas tuntas, karena paham tersebut sangat berbahaya. Di negeri ini, ideologi selain Pancasila akan tertolak dengan sendirinya, lantaran paham selain Pancasila sangat tidak cocok dengan kehidupan bermasyarakat yang berbhineka. Selanjutnya, pemerintah harus menggandeng masyarakat untuk melakukan pembersihan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Selain itu, apabila kita menemukan kelompok atau individu yang terindikasi sebagai penganut radikalisme, maka kita harus siap, sigap, dan berani melaporkannya ke aparat hukum. Saya berharap, pemerintah dan masyarakat bersama menyatukan kekuatan untuk bersatu memberantas tuntas radikalisme yang masih hidup di negeri ini.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…