Nasihat

SBY Harus Belajar Hidup Sederhana dari Bung Karno

3 Mins read
SBY Harus Belajar Hidup Sederhana dari Bung Karno SBY
Foto: Bung Karno dan SBY

Nama Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tengah menjadi sorotan publik, terutama di Jawa Timur. Semua itu tak terlepas dari rencana pendirian Museum dan Galeri SBY-Ani di Pacitan yang mendapat kucuran dana sebesar Rp 9 miliar dari Pemerintah Provinsi Jatim. Kucuran dana tersebut rencananya akan disalurkan melalui Yudhoyono Fondation yang dimiliki keluarga SBY. Karenanya, tak heran bila nama SBY belakangan ini menjadi buah bibir warganet di media sosial.

Bagi saya pribadi, penerimaan SBY terhadap kucuran dana yang berasal dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tersebut dan digunakan untuk kepentingan keluarganya merupakan sebuah bentuk keserakahan dan gaya hidup yang berlebihan. Hal ini tentu jauh dari apa yang pernah dicontohkan oleh Bung Karno agar selalu hidup dengan sederhana. Dalam hal ini, maka SBY harusnya dapat belajar hidup sederhana dari Bung Karno. Pertanyaannya, bagaimana hidup sederhana ala Bung Karno yang dimaksud?

Bung Karno merupakan salah satu Bapak bangsa yang selalu memberikan contoh hidup sederhana. Dalam suatu kesempatan misalnya, Bung Karno pernah memberikan wejangan agar bangsa Indonesia tidak malu untuk memiliki gaya hidup sederhana. Sebagaimana disebutkan Cindy Adam dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Bung Karno mengatakan, “Bagi kami kemiskinan bukanlah sesuatu yang perlu membuat malu.” Hal ini menegaskan bahwa jiwa kesederhanaan sangat melekat dalam diri Bung Karno. Dan Bung Karno tak pernah malu dengan hal tersebut.

Bahkan sebaliknya, Bung Karno selalu menganjurkan agar hidup sederhana ini dapat dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai bagian dari karakter bangsa. Dalam hal ini, Bung Karno pernah menyampaikan pentingnya hidup sederhana dan menyederhanakan penghidupan dalam pidatonya pada HUT Kemerdekaan RI tahun 1957. Ia mengatakan, “Hendaknya kita menyederhanakan penghidupan-penghidupan dengan penyederhanaan untuk produksi.” Bagi Bung Karno, hidup sederhana atau menyederhanakan penghidupan bukan sebuah aib, tetapi sebuah karakter positif yang perlu dibangun sebagai kekuatan bangsa.

Bila kita melihat kehidupan pribadi Bung Karno, maka akan kita temukan jiwa kesederhanaan selalu melekat dalam kesehariannya. Saat berada di rumah misalnya, Bung Karno kerap hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Bahkan, Bung Karno pernah mengaku bahwa satu-satunya piyama miliknya sudah sobek dan tidak layak pakai (Cindy Adams, 1965: 372). Hal ini menunjukkan bahwa Bung Karno benar-benar sosok yang penuh kesederhanaan.

Menurut kesaksian Bambang Widjanarko, salah seorang ajudan Bung Karno, sebagaimana dikutip Sigit Aris Prasetyo dalam Bung Karno dan Revolusi Mental (2017), bahwa Bung Karno adalah orang yang sederhana dalam kehidupan pribadinya. Keadaannya sehari-hari, baik di Istana Merdeka bersama anak-anaknya maupun di Istana Bogor bersama Ibu Hartini dan kedua anaknya, menunjukkan kehidupan keluarga yang wajar, sederhana, tidak berlebihan.

Lebih lanjut, Bambang Widjanarko menyatakan bahwa Bung Karno selalu mengajarkan kehidupan sederhana kepada semua anak-anaknya. Kendatipun mereka adalah anak-anak presiden, ia tidak memanjakan atau memberikan fasilitas mewah. Bung Karno hanya menyediakan kebutuhan primer bagi mereka (Sigit Aris Prasetyo, 2017: 204).

Budaya hidup sederhana bagi Bung Karno sangat penting untuk dihayati dan dipraktikkan oleh seluruh anak bangsa. Pasalnya, budaya ini menurut Bung Karno mampu membentuk karakter bangsa yang kuat, serta dapat menjauhkan seseorang dari penyakit-penyakit mental yang dapat merusak bangsa dan negara, seperti mental korupsi. Seperti kata Bung Karno dalam pidato HUT Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1957, “Pemberantasan korupsi tidak akan cukup, jika tidak diikuti oleh gerakan kesederhanaan di golongan atas, gerakan gotong royong dan keadilam sosial di kalangan rakyat banyak.”

Pidato Bung Karno di atas merupakan sebuah bentuk wanti-wanti yang tegas agar budaya hidup sederhana terus dilakukan oleh rakyat secara keseluruhan. Lebih khusus lagi ditekankan kepada para golongan atas, seperti halnya para pejabat tinggi negara. Sebab, tanpa kesederhanaan hidup bangsa ini akan kehilangan karakter dan jati dirinya. Untuk itu, penanaman jiwa kesederhanaan dalam diri setiap individu menjadi suatu keharusan yang tak terelakkan.

Dalam konteks ini, sebagai mantan presiden, baiknya SBY meneladani kesederhanaan hidup ala Bung Karno ini. Dan sebagai seorang negarawan tidak semestinya bila ia menerima kucuran dana dari Pemprov Jatim untuk kepentingan Yudhoyono Fondation ataupun keluarganya. Terlebih, di tengah pandemi saat ini, sungguh tidak elok bila SBY menggunakan dana APBD dari rakyat untuk membangun sebuah museum galeri pribadinya tersebut.

Seharusnya, di tengah pandemi ini, SBY turut menyumbang dan membantu rakyat yang kesusahan, bukan menerima kucuran dana ataupun sumbangan. Karena itu, sekali lagi saya tegaskan, sikap yang ditunjukkan SBY itu merupakan bentuk keserakahan dan gaya hidup yang berlebihan. Jika hal ini diteruskan—tanpa kesederhanaan hidup, maka bangsa ini akan kehilangan karakter dan jati dirinya, sebagaimana dikatakan Bung Karno di atas.

Maka dari itu, saya menyarankan kepada SBY agar berkenan tidak menerima kucuran dana dari APBD tersebut. Jika hal itu dilakukan oleh SBY, maka SBY telah mempraktikkan gaya hidup yang sederhana, seperti halnya yang pernah dicontohkan oleh Bung Karno. Dan bagi saya pribadi, itu merupakan sikap seorang kesatria dan negarawan yang sejati.

Akhir kata, hidup sederhana harusnya menjadi budaya kita bersama, karena kesederhanaan adalah karakter dan jati diri bangsa yang sebenarnya. Bung Karno jauh-jauh hari sudah mengajari dan memberi contoh hidup sederhana dan menyederhanakan penghidupan. Karena itu, sebagai rakyat dan warga negara Indonesia, sudah semestinya kita harus belajar hidup sederhana dari Bung Karno, tak terkecuali Pak SBY.

Related posts
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…
BeritaKolomNasihatNgopi

Tepat Sekali, Presiden Jokowi Pilih Zuhairi Misrawi Jadi Dubes RI Untuk Arab Saudi

Zuhairi Misrawi atau yang akrab dipanggil Gus Mis, dikabarkan dalam waktu dekat, akan menjadi Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Hal ini diketahui, karena sejumlah daftar nama calon Dubes tersebar di media-media. Selain itu, beredar kabar, bahwa Pimpinan DPR RI sudah mengkonfirmasi telah menerima Surat Presiden (Surpres) yang berisi nama-nama calon Dubes RI. Menurut saya, Presiden Jokowi sangat tepat memilih Gus Mis sebagai Duta Besar Arab Saudi.
KolomNasihat

Membaca Fikrah Politik Ustadz Abdul Somad

Ustadz Abdul Somad, atau lebih dikenal luas dengan sebutan UAS kembali ramai dibicarakan. Dai kondang yang sedang diidolai oleh sebagian Muslim Indonesia,…