Berita

Menyoal Teroris Agama

2 Mins read
Menyoal Teroris Agama Terorisme Agama

Peristiwa pengeboman dan aksi teror di Mabes Polri beberapa hari lalu menjadi perbincangan public tanpa henti. Sehingga bola panas ini, berujung pada hubungan agama yang dianut serta cara berpikir terorisme dalam membentuk keahlian teror dan lainnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pernyataannya mengatakan bahwa ‘Terkait dengan kejadian aksi terorisme di pintu masuk Gereja Katedral Makassar hari ini, saya mengutuk keras aksi terorisme tersebut dan saya sudah memerintahkan Kapolri untuk mengusut tuntas jaringan-jaringan pelaku dan membongkar jaringan itu sampai ke akar-akarnya,” kata Presiden Jokowi melalui video yang ditayangkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Tentunya, sebagai pemimpin sebuah negeri Presiden Jokowi mengambil jalan aman agar tidak menyenggol keyakinan beragama di Indonesia. Selain itu, jika terlalu dalam melabeli suatu keyakinan dalam peristiwa ini, akan mengganggu keamanan dan ketertiban di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Walaupun demikian, Presiden Jokowi menegaskan bahwa kejahatan ini merupakan kejahatan terhadap kemanusian.

Sebagai masyarakat, saya melihat dalam hal ini tentunya tidak penting membela pelaku terorisme apalagi menyoal sebuah agama yang dianut. Tentunya hal tersebut juga didukung oleh beberapa pernyataan dari pemerhati dan juga ahli teroris di Indonesia, agar tidak terlalu naif dalam memaknai agama yang dianut oleh pelaku dan terdakwa teroris.

Sejauh ini, agama Islam merupakan korban dari kelompok teroris untuk memuluskan aksi mereka serta menjadi sumber doktrinisasi serta sebagai tandem bagi mereka merekrut para jihadis maupun bomber. Dalam hal ini, saya menekankan bahwa pelaku teroris sejauh ini memiliki agama dan keyakinan yang di Imani oleh kelompok tersebut, hanya saja mereka salah dalam memahami agama dan esensi jihad.  

Seperti ideologi pergerakan dan lainnya, dalam sejarah teroris global selalu didominasi oleh kelompok agamawan Islam yang memiliki pemikiran yang keras diluar kaidah Islam yang ada. Sebagai contoh, kelompok teroris global dan lintas batas seperti Al-Qaeda dan Islamic State Iraq and Syria (ISIS/ISIL) menggunakan Islam sebagai landasan. Namun, yang perlu kita tekankan adalah tidak perlu melindungi walaupun menggunakan agama sebagai landasan ideologi dan pergerakannya.

Mengutip perkataan dari Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mengatakan, terorisme muncul karena kekeliruan dalam memahami suatu ideologi atau ajaran agama. Hal ini ia katakan dalam menjawab soal perlu atau tidaknya penggunaan istilah dalam bahasa Arab yang identik dengan Islam, saat membahas masalah terorisme. “Harus ditegaskan bahwa hal itu (terorisme) disebabkan karena adanya pemahaman yang keliru”.

Menurut Alissa Wahid menilai bahwa kelompok teroris itu merasa menjalankan agama berdasarkan pemahamannya dan merasa benar bahwa pemahamannya tidaklah salah. Menurutnya, teroris menganggap korban teror yang disasar adalah musuh Allah dan musuh agama Islam.

“Tapi kalau kalimatnya adalah terorisme tidak ada kaitannya dengan agama, ini problematik menurut saya, kenapa? Karena kalau kita berpikirnya seperti itu kita tidak bisa merespons persoalan ini dengan lebih konkret. Karena teroris ini dia merasa menjalankan agama tentu dengan versi dia, tafsir dia, tetapi bahwa di atas nama agama bahwa itu yang dia pilih juga adalah tempat atau korban yang dipandang sebagai musuh, itu harus diakui, kalau tidak kita bisa addressing di isu, tidak bisa mengelola atau merespons situasi ini dengan benar,” kata Alissa.

Walaupun demikian agama islam ataupun agama lainnya yang dipeluk oleh kelompok teroris, tetaplah mereka merupakan kelompok anarkis yang melakukan kejahatan kemanusian dengan cara menghilangkan nyawa seseorang secara paksa. Jika menggunakan sistem kenegaraan, maka hukum positif tidak mengenal agama sebagai suatu sumber kejahatan, namun lebih kepada Tindakan serta niat yang dimiliki oleh kelompok teroris.

Singkatnya, jika menyoal agama yang dipeluk oleh kelompok teroris apakah boleh mempublikasikan dan menjadikan sebagai pembahasan eksklusif, tentunya harus digunakan dengan sesuai porsinya. Akan tetapi meniadakan agama sebagai pendorong utama untuk melakukan suatu tindakan anarkis, dan lainnya. 

Related posts
BeritaDunia IslamKolom

Puasa Ibadah Istimewa

Tiba sudah kita di penghujung Sya’ban, umat Muslim pun akan menyambut gempita bulan Ramadhan yang di dalamnya puasa disyariatkan. Jika bulan Sya’ban…
Berita

MUI Kok Bela Ustadz Intoleran?

Dua petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik keras keputusan PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT Pelni (Persero) terkait polemik daftar penceramah kegiatan…
Berita

Bela Rizieq Bukan Mati Syahid Tapi Mati Konyol

Penangkapan tersangka tindak pidana terorisme di dua tempat berbeda, yakni Bekasi dan Tangerang Selatan mengungkapkan fakta terbaru. Selain akan melakukan aksi teror di Sarana Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan beberapa toko milik orang Tionghoa di wilayah DKI Jakarta. Kelompok teroris yang berisikan anggota FPI tersebut memiliki misi untuk membebaskan Rizieq dan ingin mati syahid.