Dunia IslamKolomNasihat

Menyibak Sisi Sufistik Nurcholish Madjid

4 Mins read
Menyibak Sisi Sufistik Nurcholish Madjid mengingat nurcholish madjid memahami sekularisasi uAI9MFqGdX

Pembaharu pemikiran Islam merupakan predikat arus utama seorang Nurcholish Madjid. Namanya menjadi amat diperhitungkan semenjak era 1970-an saat ia mulai menggelindingkan gagasan-gagasan segar dan dianggap kontroversial seputar isu-isu Islamic thought. Dominasi ini membuat kebanyakan orang luput akan domain pemikiran lain yang juga menjadi perhatian Cak Nur bahkan menjadi spirit pemikirannya, yakni disiplin sufisme.

Padahal, di balik susunan pelbagai gagasannya, simpul-simpul tasawuf menjadi bagian yang integral di situ. Sebagaimana pandangan Sudirman Tebba, di mana pemikiran keagamaan dan sosial-politik Cak Nur berkarakter integratif, karena kesemuanya mengacu pada unsur-unsur tasawuf, seperti iman, akhlak, ibadah, dan amal saleh yang terjalin secara utuh.

Postur sufistik Cak Nur ini setidaknya dapat kita cermati dari pemikiran dan pribadinya. Secara luas ia dikenal sebagai tokoh modernis yang banyak membincang seputar kontekstualisasi ajaran Islam terhadap modernitas. Dan garis besar pemikiran Cak Nur ialah segitiga keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan.

Pemikiran tasawuf Cak Nur didasarkan pada ide bahwa manusia memiliki dua sisi yang harus diseimbangkan, yakni sisi esoterik (rohani) dan sisi eksoterik (lahir). Karena manusia akan limbung jika hanya mematut diri pada aspek lahir ataupun aspek batin saja dalam beragama. Lebih daripada itu, kesadaran akan pentingya keseimbangan dua orientasi ini, memang telah menjadi watak dari Islam itu sendiri, di mana Islam merupakan agama pertengahan (wasath) antara agama Yahudi dan agama Kristen.

Agama Yahudi cenderung bersifat legalistik dan banyak menekankan orientasi kemasyarakatan. Sedangkan agama Kristen lebih spiritualistik dan amat memperhatikan kedalaman serta olah rohani yang menjadikan agama ini kental dengan kelembutan. Sebagaimana ungkapan Ibnu Taymiyah yang diadopsi Cak Nur, bahwa syariah Taurat yang dibawa Nabi Musa didominasi oleh ketegaran, dan syariah Injil ajaran Nabi Isa didominasi oleh kelembutan. Adapun syariah Nabi Muhammad menjadi penengah dan meliputi keduanya.

Sebagai format pertengahan antara dua ajaran agama seniornya; Yahudi dan Kristen, Islam memuat ajaran-ajaran hukum yang berorientasi pada perilaku manusia secara lahiriah sekaligus mengandung ajaran kerohanian yang mendalam. Kedua dimensi ajaran ini sesungguhnya tak bisa dipisahkan, meskipun dapat dibedakan. Hal ini karena ketika seorang Muslim dikenai suatu kewajiban hukum laku lahiriah, sudah semestinya ia menunaikan kewajiban tersebut dengan tulus yang berakar dari komitmen spiritualnya.

Di tangan Cak Nur, tasawuf tidak dibahasakan sebagai sikap menepi dari hiruk pikuk kehidupan duniawi. Syariah dan thariqah (tasawuf) ia padukan, dan hubungan antara keduanya saling menunjang. Konsep tasawuf Cak Nur masuk dalam kategori neo-sufisme atau tasawuf modern. Bisa dibilang pemikiran sufistiknya dekat dengan gagasan sufistik Ibnu Taymiyah, yakni jenis tasawuf yang dekat dengan syariah. Neo-sufisme Ibnu Taymiyah ialah tindak lanjut dari ajaran Islam itu sendiri, dan tetap dalam pengawasan dua sumber utama ajaran Islam, al-Quran dan sunnah. Ditambah dengan ketentuan supaya manusia terlibat aktif dalam ranah sosial kemasyarakatan.

Dalam pandangan Fazlur Rahman, ciri utama neo-sufisme adalah penekanan pada motif moral dan aktivisme zikir untuk membangun kedekatan rohani dengan Tuhan. Karakter lain yang menonjol dari tasawuf modern ialah adanya spiritualisme sosial. Sebagaimana konsep tasawuf modern Buya Hamka yang juga diapresiasi serta diamini oleh Cak Nur. Selain mengarahkan untuk menghayati esoterisme Islam yang tetap terkendalikan ajaran-ajaran standar syariah, Buya Hamka juga menekankan agar manusia tetap aktif mencemplungkan diri dalam masyarakat.

Neo-sufisme tidak menganjurkan praktik uzlah atau pengasingan diri. Konsep sufistik ini memiliki pandangan lebih terbuka dan positif terhadap kehidupan dunia. Dengan kata lain, identik dengan kehadiran spiritualisme sosial. Segala praktik ibadah-ibadah wajib ataupun sunnah, zikir, ataupun pengkajian teks keagamaan harus tercermin dalam akhlak personal dan sosial.

Spiritualisme sosial ini menentang keras kepalsuan hidup dari praktik spiritualisme pasif dan isolatif. Karena jalan spiritual semacam ini akan mengungkung pelakunya dari dinamika ruang publik dan minim rasa peduli pada persoalan sosial. Ini adalah spiritualisme kaum egois yang hanya mencari oase kebahagiaan untuk diri sendiri.

Karakter wasath dari Islam benar-benar dituangkan dalam konsep tasawuf Cak Nur. Ia merekonsialiasi antara syariah dan thariqah. Seperti diketahui, sebelumnya pernah terjadi polemik dan ketegangan antara kaum sufi dengan kaum syariah, di mana masing-masing saling menuduh orientasi keagamaan yang lain tidak sempurna dan menyeleweng.

Dalam neo-sufisme, Cak Nur melihat adanya keseimbangan ajaran Islam. Prinsip keseimbangan sendiri merupakan ketentuan Allah untuk jagad raya ini. Perihal keseimbangan ini misalnya dikabarkan oleh surat al-Rahman [55]: 7-8 yang menyatakan, Dan langitpun ditinggikan oleh-Nya, serta diletakkan oleh-Nya (prinsip) keseimbangan. Agar janganlah kamu (manusia) melanggar prinsip keseimbangan itu.

Mengacu pada ayat ini, manusia sebagai mikrokosmos atau jagad kecil, tak lepas dari perintah untuk memelihara prinsip keseimbangan dalam dirinya, termasuk dalam kehidupan spiritualnya. Melanggar prinsip keseimbangan yang dicanangkan ayat suci ini dapat mengantarkan manusia pada guncangan kosmis.

Sufisme yang merupakan aspek esoteris dalam Islam, memang menjadi pengalaman paling personal bagi seseorang dan tak bisa disamakan satu orang dengan yang lainnya. Yang masih mungkin menjadi indikator untuk menilai sisi sufistik seseorang, menurut saya adalah akhlak dan spiritualitas sosial yang terpancar dari orang tersebut. Karena toh inti dari tasawuf adalah akhlak. Artinya, kita bisa mengecek gelombang sufistik dan spiritualitas seseorang dari akhlaknya.

Selain secara pemikiran Cak Nur mengajukan konsep neo-sufisme, denyar sufistik Cak Nur pun teraktualkan dalam karakter dan kesehariannya. Ia dikenal dengan pribadi yang santun, penyabar, ikhlas, dan sederhana. Cak Nur adalah pribadi yang berakhlak luhung.

Ada satu kisah sederhana yang bagi saya menjadi penunjuk level spiritualitas Cak Nur. Dalam suatu wawancara bersama istri mendiang Cak Nur, Omi Komariah mengisahkan bagaimana momen akhir hidup sang suami, yang ketika sakit Cak Nur tak mengeluh dan tak merasakan sakit sama sekali. Padahal ia didiagnosis mengidap kelainan hati sirosis, di mana ini adalah penyakit berat dan keras. Betapa sang istri merasakan kehadiran serta kasih sayang Tuhan yang luar biasa kepada sang suami.

Kesaksian sang istri tersebut, bagi saya adalah pertanda zahir dari Allah bahwa Cak Nur adalah orang yang benar memiliki hubungan baik dengan-Nya. Cak Nur menyadari betul posisinya sebagai khalifah Tuhan, hingga ia selalu merasa bahwa Tuhan hadir dalam tiap geraknya.

Keluasan cakrawala pengetahuannya terhadap Islam, membuat Nurcholish Madjid yakin Islam memiliki solusi untuk banyak permasalahan. Apa yang Cak Nur gagas nampak sebagai upayanya meneguhkan kredo bahwa Islam akan selalu relevan dengan segala perubahan masa dan tempat. Semangatnya adalah mengabdi, mencari kebaikan dan kebenaran yang tulus.

Sangat ngawur jika ada yang menuding Cak Nur dengan tuduhan-tuduhan sembrono, seperti tuduhan sekuler bahkan murtad. Keilmuan dan pemahaman Cak Nur telah mengantarkannya pada budi pekerti luhur dan pendakian spiritualitas yang matang. Dari modul pemikiran dan akhlak mulia yang ditampilkan Nurcholish Madjid, tak bisa dipungkiri adanya postur sufistik yang terpancar dari dirinya. Wallahu a’lam. []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…