Kolom

Drama SBY-Demokrat Hambat Kemajuan Negara

2 Mins read
Drama SBY-Demokrat Hambat Kemajuan Negara SBY Partai Demokrat kongres

Tolok ukur kemajuan sebuah negara dapat dilihat dari keberhasilan dalam proses pembangunan. Adapun tingkat kemajuan suatu negara dapat dilihat dari dua segi, yakni segi kuantitatif dan segi kualitatif. Secara kuantitatif, suatu negara dapat bisa dianggap sebagai negara maju atau negara berkembang  dilihat dari pendapatan perkapita, tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, tingkat inflasi, dan laju pertumbuhan penduduk. Sementara dari segi kualitatif, dikatagorikan negara maju apabila pertumbuhan ekonomi yang tinggi disertai dengan pemerataan pendapatan.

Saat ini, pemerintah tengah mengupayakan itu semua. Pemerintah tengah fokus bangkitkan perekonomian dan kesehatan nasional. Selain terus bekerja keras menangani Covid-19. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), per hari ini, rasio kasus positif Covid-19 harian Indonesia mencapai rekor tertinggi, yakni 40,1 persen. Secara keseluruhan, kasus positif Covid-19 di Indonesia saat ini berada di angka 18,51 persen. Dari 6.767.226 orang yang diperiksa, total yang terpapar mencapai 1.252.685 orang.

Memang teramat berat tugas yang harus diemban pemerintah saat ini, diantara tugas pemulihan ekonomi dan penanganan Covid-19 yang tak kunjung mereda, bara politik yang tak sehat terus dihembuskan para oposisi. Salah satunya datang dari mantan Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono dengan Partai Demokratnya. Dalam keadaan serba sulit ini, SBY dan Demokrat menciptakan drama-drama yang menghambat kemajuan negara.

Setelah pada era kepemimpinannya sempat menciptakan proyek-proyek mangkrak, seperti proyek Hambalang, proyek listrik, dan proyek mobil internet yang menelan triliunan anggaran negara. Setelah tak lagi menjadi orang nomor satu di republik ini, SBY dengan Demokratnya masih kembali menyusahkan rakyat dan pemerintah. Beberapa pekan lalu, Partai Demokrat yang kini di ketuai oleh putranya, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menciptakan keributan publik dengan mengangkat isu kudeta yang melibatkan Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko. Selang berapa hari, mencuat di media sosial perihal pembangunan Museum SBY dan Galery Ani Yudhoyono di Pacitan yang diduga hasil hibahan APBN Pemerintah Kabupaten Pacitan, sebanyak 9 milyar.

Teranyar, berita yang menjadi trending di laman Twitter dengan hastag (#) SBYpenuhdrama memunculkan suatu berita yang mungkin banyak orang tidak mengetahui, yakni menampilkan SBY muda yang diduga telah melakukan pernikahan sebelum masuk akademi militer (akmil). Padahal, salah satu syarat masuk akademi militer seperti yang dilansir @tnipolripmb.com, adalah belum pernah menikah. Jika memang ini benar adanya, ini memang menjadi urusan SBY sendiri, dan sudah terjadi. Namun yang menjadi persoalan iyalah, dengan ketidaksempuraan perjalan hidupnya itu, SBY dan Demokrat masih terus mengumbar pernyataan-pernyataan yang membuat publik tidak nyaman. Baik berupa kritik-kritik pada pemerintah yang tidak sesuai fakta, juga narasi pembenaran yang seolah era kepemimpinannya dulu paling bagus tanpa cela.

Setelah tak lagi berkuasa, alih-alih ikut membangun kemajuan negara, merawat kebhinekaan dan menciptakan kedamaian, SBY-Demokrat justru membuat suasana kian keruh yang tak berujung. Seharusnya, sebagai partai yang pernah berkuasa selama 10 tahun, Demokrat dan SBY terus konsisten membangun Indonesia. SBY harusnya bisa menjadi negarawan yang berkontribusi lebih untuk negeri, serta tidak melulu saat partainya berkuasa saja. Negarawan sejati iyalah yang rela mengabdi untuk negara dan senantiasa memikirkan keadaan generasi selanjutnya. Terlalu egois jika SBY hanya memikirkan partainya sendiri. Pandangan-pandangannya hampir selalu lebih condong pada kepentingan politik atau kelompoknya.

Dalam membina partainya, SBY harusnya banyak memberikan pendidikan kepemimpinan yang cakap pada putranya yang menjadi ketua umum Demokrat. Jangan mendidik AHY menjadi pemimpin yang cengeng dan baperan. Amat disayangkan ketika AHY yang masih panjang karir politiknya dijejali pengetahuan yang merusak jiwa muda kepemimpinannya. Selain itu, SBY mesti betul-betul membina para kader Demokrat, agar menjadi kader-kader yang kompeten yang mampu dan bisa bersaing dengan kader parpol lain, serta siap menjawab semua tantangan. Ajarilah kader Demokrat loyalis terhadap NKRI, bagaimana membangun negeri yang kita cintai ini.

Saya berharap SBY dan Demokrat, segera menyudahi drama-drama yang dapat menghambat kemajuan bangsa. Sebab, bangsa besar ini tidak butuh drama-drama, tetapi kerja nyata. Walhasil, ada banyak sekali cara yang bisa kita lakukan demi kemajuan bangsa, terlebih mereka para elite dan penyelenggrana negara. Namun demikian, hendaklah keaktifan kita membangun bangsa dan negara tidak semata karena ingin meraih sebuah kekuasaan, tetapi murni karena kecintaan pada Indonesia.

Related posts
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…