Kolom

Tradisi Puasa di Nusantara

2 Mins read
Tradisi Puasa di Nusantara iStock Charity Ramadan Qatar Living small scaled
Muslim men gathering for a communal charity iftar organised on a street by a local mosque.

Negeri ini memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia. Menurut data Pew Research Center, jumlah populasi Muslim di Indonesia saat ini sebanyak 219.960.000 Muslim atau 12,6 persen dari populasi Muslim di seluruh dunia. Di samping itu, sebagai negara yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, tentu Ramadhan disambut dengan gembira oleh Muslim Nusantara di seluruh penjuru Tanah Air. Hal tersebut menunjukan, bahwa negeri ini pasti memiliki cara atau tradisi tersendiri dalam berpuasa di bulan Ramadhan.

Di setiap daerah, memiliki tradisi unik dan berbeda-beda. Dilansir dari Theculturetrip.com, Di beberapa wilayah Indonesia, umat Muslim akan melakukan berbagai ritual untuk membersihkan diri mereka sendiri jelang bulan suci Ramadhan. Beberapa daerah seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki tradisi penyucian yang disebut padusan, yang berarti mandi. Tradisi tersebut disebarkan pertama kali oleh Wali Songo, sekelompok tokoh agama islam yang merupakan misionaris pertama dalam menyebarkan ajaran Islam di seluruh Jawa.

Selain itu, Clifford Geertz (1964) mengatakan, di Jawa, puasa merupakan ritual yang banyak dilakukan masyarakat dari seluruh tingkatan kelas dengan tujuan untuk kekuatan dan intensitas spiritual. Melalui ritual puasa, seseorang akan meningkatkan kesaktian, kekuatan spiritual, atau kemampuan supranaturalnya. Puasa yang demikian, dipandang sebagai simbol untuk mencapai tujuan tertentu. Dan biasanya kegiatan tersebut, dilakukan bukan saat bulan Ramadhan. Namun, mereka berpuasa juga ingin meningkatkan ketakwaannya kepada Sang Maha Kuasa.

Selain itu, di daerah Demak, ada tradisi Arwah Jamak, tradisi ini dilakukan masyarakat Demak sejak zaman Sunan Kalijaga. Tradisi tersebut merupakan pembacaan doa untuk orang tua, saudara, atau leluhur yang sudah meninggal. Saat itu, doa-doa akan dibacakan secara berjamaah menjelang datangnya bulan Ramadhan, maupun sepuluh hari terakhir pada malam ganjil bulan Ramadhan. Warga yang ingin arwah leluhurnya didoakan, biasanya memberikan sedekah uang. Uang yang terkumpul, lalu akan digunakan untuk bersedekah atau menyantuni anak yatim piatu.

Di samping itu, yang lebih unik dibanding negara lain, negeri ini memiliki tradisi Ngabuburit. Kegiatan ini dilakukan hampir seluruh umat Muslim di Tanah Air. Ngabuburit merupakan tradisi menunggu waktu berbuka puasa, yang dilakukan pada sore hari, antara jam 3 sore, hingga menjelang Magrib. Biasanya, kegiatan ini diisi dengan aktivitas berburu takjil, makanan-makanan untuk berbuka puasa, melakukan kegiatan sosial, atau sekadar berkumpul bersama kerabat dan sahabat.

Tradisi unik lainnya, yakni membangunkan sahur. Kegiatan ini dilakukan dengan cara berkeliling menggunakan beduk atau alat lainnya yang berbunyi nyaring, sambil berteriak “sahur sahur”. Tradisi ini melibatkan semua orang segala usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Inilah yang membuat bulan Ramadhan menjadi lebih meriah dan dirindukan, serta tradisi ini bisa membuat kita menjadi semangat untuk memulai hari sebelum berpuasa.

Banyak sekali tradisi puasa di Nusantara yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Di setiap daerah, ada yang mempunyai kesamaan, ada juga yang berbeda tradisi. Biasanya, tradisi puasa yang serupa memiliki perbedaan di nama saja.  Dalam tradisi puasa, di Nusantara kadang dimaknai sebagai upaya pertobatan terhadap dosa-dosa yang pernah dilakukan, atau sebagai upaya mengontrol diri dari hawa nafsu dan sebagai bentuk menambah ketaatan kepada Allah SWT. 

Dengan demikian, kegiatan yang dilakukan masyarakat saat bulan Ramadhan menjadi sebuah tradisi yang kemudian mengakar dalam kehidupan umat Islam di Tanah Air. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi tradisi puasa di Nusantara. Di berbagai pelosok Bumi Pertiwi yang masyarakatnya majemuk, tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan menjadi semacam hukum yang tak tertulis. Meski di setiap daerah berbeda-beda, tetapi tujuannya tetap sama, yaitu mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW dalam memuliakan Ramadhan dan menebar kebaikan.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…