Kolom

AHY Tidak Siap Jadi Pemimpin

3 Mins read
AHY Tidak Siap Jadi Pemimpin AHY

Pernyataan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menuduh ada pihak luar ingin mengkudeta Partai Demokrat, adalah pernyataan yang tidak cerdas. Bahkan, dengan dia mengambil inisatif menyurati Presiden Jokowi terkait isu kudeta terhadap partainya, menunjukkan AHY tidak siap menjadi pemimpin. Jangankan memimpin Indonesia, menyelesaikan permasalahan internal Demokrat saja AHY tidak mampu, sampai-sampai ingin melibatkan  pihak luar.

Dugaan isu kudeta Partai Demokrat yang menyeret nama Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko juga menjadi lucu. Sebab, kasus kudeta biasanya dilakukan oleh orang dalam, seperti baru-baru ini, pimpinan Myanmar Aung San Suu Kyi yang dikudeta oleh militer Myanmar pada 1 Februari 2021. Namun dalam kasus ini AHY membawa nama Moeldoko yang notabene pihak yang tidak berada dalam lingkaran Demokrat. AHY seolah sengaja mencari momen, di tengah perdebatan Pilkada serentak 2022 atau 2024 untuk menaikkan pamor dirinya yang minim prestasi.

Menurut Mantan Ketua Komisi Pengawas Demokrat, Achmad Yahya, pernyataan tentang isu kudeta yang disampaikan AHY saat konferensi pers Senin (1/2/20201) tempo hari, diduga sebagai sebuah kekeliruan. Pihaknya lantas meluruskan, bahwa persoalan yang mel ibatkan pihak eksternal, yang sebenarnya adalah permasalahan internal Demokrat sendiri. Achmad Yahya mengatakan, di bawah kepemimpinan AHY, banyak kader yang mengeluh, terutama soal iuran partai. Sesewatu hal yang tidak pernah terjadi pada ketua umum sebelumnya, yaitu Budi Santoso, Hadi Utomo, dan Anas Urbaningrum.

Dia juga mengklaim, para kader daerah merasa kecewa dengan pelaksanaan Kongres Demokrat pada bulan Maret 2020 yang disebutkannya cacat hukum. Selain itu, Achmad Yahya juga menyebutkan, proses penentuan calon Kepala Daerah yang maju Pilkada sebelumnya diserahkan ke DPC, tetapi kini seluruhnya berada di DPP dan tak menjaring aspirasi pengurus daerah. Terlebih banyak hasil Pilkada yang menurun.

Belum lagi pernyatan senior Demokrat, Darmizal yang menyebut Edhie Baskoro Yudhoyono lebih disukai lingkup internal Demokrat. Semakin menguatkan dugaan, bahwa permaslahan sebenarnya memang ada di internal Demokrat. Bahwa sebenarnya isu kudeta dari pihak luar itu tidak ada, hanya pengalihan isu untuk mengecoh para kader Demokrat yang kecewa dengan kepemimpinan AHY.

Dalam konferensi pers yang juga dihadiri para pendiri dan senior Demokrat seperti Darmizal, Yus Sudarso, Syofatillah Mohzaib, dan Tri Yulianto, menginginkan adanya perubahan kedepan yang lebih baik dan mengembalikan Demokrat menjadi partai besar. Achmad Yahya berharap, Demokrat dapat mengalami perubahan dan menghapus kesan partai milik keuarga.

Nampaknya kegelisahan dan kasak-kusuk para kader Demokrat tak pernah sampai ke telinga AHY. Atau memang ia sendiri menutup diri? Ya sepertinya AHY lebih mendengar bisikan sang pemina partai, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam menentukan sikap. AHY memilih politik pencitraan, namun cara dan momennya tidak tepat. AHY belum pandai membaca gelagat di dalam tubuh partainya, karena terlalu sibuk mencari panggung. Ia gagal menampung aspirasi para kadernya, kemudian pihak eksternal yang ia timpakan masalah.

Dengan begini nampak sekali AHY tidak siap menjadi pemimpin. Meski menyandang  lulusan terbaik dari Akademi Militer dan meraih penghargaan Bintang Adi Makayasa, namun itu belum cukup baginya untuk memimpin sebuah partai. Jangankan menjadi orang nomor satu di negri ini, menghadapi masalah internal saja AHY masih gugup. Menghadapi kenyataan semacam ini, maka harapan mengembalikan kejayaan Demokrat rasannya akan sulit terwujud.

Namun mimpi menjadi pemimpin kelas dunia seperti yang dikatakan Natalius Pigai bisa saja menjadi kenyataan, andai cara berfikir AHY diubah. AHY hendaknya tidak lagi menjadi pemimpin yang cengeng dan baperan. Sebagai pemimpin, AHY harus siap menghadapi ancaman yang akan mengganggu stabilitas partainya. Termasuk berani menyelesaikan persoalan internal tanpa melibatkan pihak eksternal.  Selain itu, untuk menjadi pemimpin kelas dunia, sebisa mungkin AHY harus bisa menjaga perasaan para kader-kadernya dan yang paling penting perasaan rakyatnya yang akan ia pimpin nanti. Apabila hal ini diabaikan, maka bersiaplah menghadapi rakyat sendiri sebagai musuh. AHY harusnya sadar dalam keadaan semacam ini sekarang.

Jika AHY ingin mengembalikan kejayaan Demokrat, AHY memerlukan dukungan dari seluruh kader, baik tingkat DPC maupun DPP. Diantara semuanya jangan sampai terpecah, harus solid dan loyal. Ini menjadi penting, sebab untuk mengantisipasi serangan dari pihak luar yang ingin memecah Demokrat. Dengan jajaran kader dan petinggi Demokrat yang solid serta loyal, kejayaan Demokrat bukan sebuah keniscayaan. Selanjutnya, menjadi orang nomor satu Indonesia tinggal menunggu waktu.

Untuk menjadi pemimpin kelas dunia, AHY juga perlu mendapatkan dukungan publik. AHY harus memiliki prinsip, harus memiliki pilihan, dicintai atau ditakuti rakyat. Seperti kata Niccolo Machiavelli, “Seorang pemimpin selayaknya bisa ditakuti dan dicintai sekaligus. Tetapi, jika tidak mampu mendapatkan keduanya, lebih baik ditakuti daripada dicintai. Sebabnya, cinta itu diikat oleh kewajiban yang membuat seseorang mementingkan dirinya sendiri, dan ikatan itu akan putus apabila berhadapan dengan kepentingannya.”

Menjadi pemimpin memang tidak mudah, ia harus bersikap seperti rubah yang cerdik untuk mengetahui segeala kemungkinan yang membahayakan, dan menjadi seperti singa yang menakutkan untuk menakuti musuhnya. Mereka yang hanya ingin bersikap seperti singa adalah bodoh. Seorang pemimpin harus berani bersikap jujur, bahkan mulai dari pikiran. Sikap AHY menuduh ada pihak luar yang ingin mengkudeta partainya dan lantas mengirim surat, meminta klarifikasi Presiden, bukti AHY tidak siap jadi pemimpin.

Related posts
Kolom

Pentingnya Memelihara Peninggalan Bersejarah Untuk Peradaban Dunia

Semua peninggalan sejarah dunia harus dijaga, utamanya yang ada di Indonesia. Karena peninggalan sejarah adalah sebuah warisan pendahulu kita, yang akan menjadi sarana pendidikan dan ilmu pengetahuan baru untuk memperluas wawasan. Banyak sekali manfaat peninggalan bersejarah, yang fungsinya melimpah untuk kemajuan manusia. Maka itu, kita harus terus menjaga dan memelihara peninggalan bersejarah untuk peradaban dunia demi kemaslahatan umat manusia.
Kolom

Myanmar dan Krisis Kemanusiaan

Keadaan genting di Myanmar masih berlanjut, pasca kudeta yang dilakukan Junta Militer 1 Februari yang lalu. Unjuk rasa menuntut dibebaskannya pemimpin de…
KolomNasihat

Paradoks Kaum Khilafah

Pada Tahun 2017, pemerintah mengesahkan Peraturan Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017. Dikeluarkannya Perppu tentang Organisasi Masyarakat (Ormas) No. 2/2017 tersebut…