Kolom

Menteri Agama Menebar Cinta

2 Mins read
Menteri Agama Menebar Cinta Yaqut Cholil

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, meminta jajarannya di Kementerian Agama untuk memberikan kesempatan doa versi agama selain Islam juga dibacakan pada setiap acara kementerian. Dia mengungkapkan, jika pembacaan doa hanya agama Islam, maka kesannya seperti kegiatan ormas Islam saja. Namun, kementerian yang dia pimpin saat ini bukan hanya urusan agama Islam saja, tetapi melayani seluruh agama yang ada di negeri ini. Itu sebabnya, pria yang biasa disapa Gus Yaqut ini menginginkan moderasi beragama timbul pada setiap kegiatan. Dari pernyataannya tersebut, kita semua menjadi bangga memiliki Menteri Agama yang menebar cinta.

Namun, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas, mengkritik rencana Menteri Agama tersebut. Dia menilai implementasi dari kaidah-kaidah toleransi di Indonesia, tak seperti yang dianjurkan oleh Menteri Agama. Bahkan Anwar Abbas mempertanyakan pemahaman Gus Yaqut mengenai toleransi yang kehilangan akal. Kontra diksi Anwar Abbas tersebut nampaknya tidak tepat. Dia tidak melihat bahwa negeri ini adalah negeri sejuta umat. Untuk itu, seharusnya kita dukung penuh rencana Menteri Agama yang ingin menjunjung tinggi moderasi beragama.

Melalui permintaan Gus Yaqut yang ingin memberikan kesempatan doa untuk agama selain Islam, menandakan Gus Yaqut ingin menebar cinta ke seluruh penjuru negeri. Seperti Jalaluddin Rumi yang pernah mengatakan, “Banyak jalan menuju Tuhan, tetapi aku memilih jalan cinta.” Cinta adalah salah satu sifat Allah SWT, yang tercantum dalam asma al-husna, yakni ar-rahman dan ar-rahim. Sifat cinta tersebut diberikan untuk manusia agar melangsungkan hidup dengan perdamaian. Adapun, kehidupan damai di dunia ini harus didasari dengan cinta.

Demikian pula Nabi Muhammad SAW pada 631 M, yang memperkenankan kelompok Kristen untuk beribadah dengan bebas di Masjid Nabawi. Dan ketika kelompok Kristen meninggalkan Madinah, Nabi memberikan perjanjian untuk melindungi nyawa, kebebasan, harta benda, serta hak asasi mereka. Hal itu dilakukan, ketika ada interaksi antar-iman di antara Nabi Muhammad dan kalangan Kristen Najran (Craig Considine, 2018. Buku Muhammad Nabi Cinta). Pada zaman kenabian saja sudah timbul rasa toleransi antar umat beragama. Nabi Muhammad secara nyata merangkul perbedaan pada saat itu.

Sementara itu, gencarnya penyebaran isu minoritas dan mayoritas, menjadikan moderasi beragama harus ditingkatkan kembali. Karena dengan isu tersebut, negara akan mengalami krisis Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak menyukai keberagaman dan toleransi. Banyak kasus-kasus yang mendiskriminasikan antara kelompok minoritas dan mayoritas. Isu seperti ini yang mengakibatkan anak bangsa terpecah belah ke dalam beberapa kelompok.

Karena beragamnya kehidupan di negeri ini, maka kita harus menjunjung tinggi toleransi. Sebab negara ini milik kita bersama, bukan hanya milik Muslim sendiri, tetapi milik semua agama. Apabila, kita saling menghargai, maka akan melahirkan perdamaian yang diinginkan semua umat. Jika hal tersebut terjadi, negeri ini akan nyaman ditinggali.

Sementara itu, Allah SWT pula melarang umatnya menebar kebencian, dalam Q.S Al-Hujarat ayat 11 menyebutkan, Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah suatu kaum tidak menghina kaum yang lain, karena bisa jadi mereka yang dihina lebih baik dari yang menghina. Begitu hendaklah suatu golongan perempuan tidak menghina golongan perempuan yang lain, karena bisa jadi golongan yang dihina lebih baik dari pada yang menghina. Dan janganlah kalian memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruknya panggilan adalah panggilan fasik sesudah iman. Barang siapa tidak bertaubat, maka mereka adalah orang-orang yang zalim.

Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus menebar kebaikan atau cinta kepada siapapun. Ayat tersebut, memberikan alasan mengenai larangan membenci, meremehkan, dan mengolok-olok orang lain. Maka dari itu, sebagai seorang muslim yang baik, sudah seharusnya kita mengucapkan dan melakukan tindakan yang bermanfaat bagi semua makhluk hidup. Dengan demikian, usaha yang dilakukan Gus Yaqut telah membuka ruang perdamaian antar umat beragama. Melalui cinta, Menteri Agama akan menebar kebaikan ke seluruh umat.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…